- Kehadiran mobil listrik di China bukan sekadar tren, melainkan sebuah realitas yang kini sudah mengakar di jalanan. Di kota-kota besar seperti Guangzhou, pemandangan kendaraan bertenaga baterai sudah menjadi hal yang lumrah, bahkan mendominasi sektor transportasi publik. Salah satu pemandangan yang paling mencolok adalah perbedaan warna pelat nomor. Di China, warna pelat menjadi identitas utama untuk membedakan jenis mesin yang dipakai. Afung, seorang pemandu sekaligus penerjemah di Guangzhou, menjelaskan bahwa sistem ini mempermudah identifikasi kendaraan ramah lingkungan. Penggunaan mobil listrik di Kota Guangzhou, China. "Kalau pelat hijau itu energi baru (new energy vehicle), listrik. Kalau biru dan kuning bensin (ICE)," kata Afung di Guangzhou, China, Selasa (21/4/2026). "Makanya kalau kita lihat di Guangzhou taksi 100 persen pasti ialah yang pakai baterai (listrik) tidak ada bensin lagi," ujar Afung Kemudahan Popularitas mobil listrik di Negeri Tirai Bambu ini tidak terjadi begitu saja. Ada peran besar pemerintah yang memberikan "karpet merah" bagi masyarakat yang ingin beralih dari mobil konvensional ke mobil listrik. Menurut Afung, kebijakan ini cukup merata di berbagai wilayah, tidak hanya terbatas di kota besar seperti Guangzhou. Mobil listrik Aion dan Hyptec dalam sesi test ride di pusat penelitian dan pengembangan GAC Group di wilayah Panyu, Guangzhou, China. Faktor utamanya adalah kemudahan dalam mendapatkan legalitas kendaraan dan dukungan finansial. "Bukan cuma di Guangzhou di setiap kota, mobil yang pakai energi baru sudah sangat populer, pertama karena ini ada hubungan dari pemerintah semuanya beli ada subsidi dan gampang dapat nomor pelatnya," katanya. Menurut Afung masyarakat yang ingin membeli mobil listrik akan dipermudah mendapat pelat nomor. Sebaliknya, jika ingin membeli mobil bensin akan dipersulit. Pemerintah China menerapkan aturan yang sangat ketat untuk menekan polusi salah satunya melalui pembatasan kuota pelat nomor. Test ride mobil listrik Aion di kompleks pabriknya di Guangzhou, China. Afung mengatakan, proses mendapatkan izin jalan untuk mobil bensin bisa memakan waktu bertahun-tahun melalui sistem undian atau lelang yang kompetitif. "Kalau kita mau beli mobil bensin susah, antri, susah, mungkin bisa 10 tahun enggak bisa (dapat) nomor pelatnya. Tidak ada nomor pelat, tidak boleh beli mobil," kata Afung. "Tapi kalau energi baru gampang. Karena beberapa tahun ini, mobil listrik ini belum dicabut politiknya untuk mendukung," ucap Afung. Suasana lalu lintas di Kota Guangzhou, China. Subsidi Selain kemudahan administrasi, faktor harga juga menjadi penentu. Pemerintah China memberikan subsidi langsung yang membuat harga jual mobil listrik menjadi lebih kompetitif dibandingkan mobil bensin. "Semuanya ada subsidi. Kita beli mobilnya juga dapat subsidi dari pemerintah. Tapi kalau beli bensin tidak ada subsidinya," pungkasnya. Dengan kombinasi kebijakan pelat nomor dan subsidi yang masif, tak heran jika ekosistem kendaraan listrik di China berkembang sangat pesat. Saat ini China merupakan pasar terbesar mobil listrik global. Negara ini juga jadi salah satu kiblat baru bagi industri otomotif di era elektrifikasi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang