Ban bekas banyak dijual di pasaran dengan banderol bervariasi, tergantung kondisi. Namun ternyata, pabrikan tidak merekomendasikan ban bekas karena alasan tertentu. Sepintan visual ban bekas masih dalam kondisi baik, seperti tak memiliki luka fisik, bentuk masih utuh dan kembangan ban masih tebal. Atas dasar itulah ban bekas kerap jadi alternatif konsumen. Fisa Rizqiano, Head of Original Equipment (OE) Sales PT Bridgestone Tire Indonesia mengatakan ban bekas kerap menjadi alternatif konsumen karena banderolnya lebih terjangkau. “Dalam kondisi darurat masih boleh lah, kami tidak melarang, tapi juga tidak merekomendasikan karena produk tersebut tak bisa dijamin kualitasnya,” ucap Fisa kepada KOMPAS.com, Rabu (28/1/2026). Meski secara fisik masih baik, tapak ban masih tebal, dan bentuknya masih utuh, konsumen tak akan tahu riwayat pemakaian ban tersebut. “Misal ban tersebut kerap dipakai muatan penuh tidak, pernah membentur atau tidak, sehingga struktur bannya menjadi beda, belum tentu sanggup menahan beban tertentu,” ucap Fisa. Ilustrasi ban mobil sudah aus Ban merupakan komponen vital dalam hal keselamatan berkendara, maka dari itu pihaknya tidak bisa sembarangan memberikan rekomendasi. Berbeda dengan ban baru, pabrikan bisa memperhitungkan dan mengontrol kualitas ban. “Keawetan ban sangat tergantung dengan pemakaian, sehingga kondisi ban bekas satu dengan lainnya tak selalu sama,” ucap Fisa. Nah itulah alasan pabrikan tidak merekomendasikan ban bekas sebagai pilihan terbaik untuk konsumen. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang