Aksi pelemparan batu terhadap truk kembali menjadi perhatian para pengusaha angkutan barang. Fenomena tersebut disebut mulai muncul lagi setelah cukup lama tidak terdengar. Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DI Yogyakarta Bambang Widjanarko mengatakan, pihaknya mendapat informasi mengenai aksi pelemparan batu terhadap truk di sejumlah wilayah. "Ada beberapa kali ya, orang yang lemparin batu mulai lagi gitu. Sudah lama gak ada kasus gitu," kata Bambang kepada Kompas.com, Sabtu (21/8/2026). "Tapi Jawa Tengah belum ada. Minimal saya belum mendengar laporannya dari anggota Jawa Tengah. Tapi kalau di Jawa Timur, di Sumatera tuh mulai. Sumatera selatan sama Lampung," katanya. "Mulai Agustus ini," ujar Bambang. Gempa bumi berkekuatan sekitar 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.00 WITA, membuat pemeriksaan infrastruktur di sejumlah wilayah terdampak belum dapat dilakukan secara menyeluruh. Truk dilempar acak Menurut dia, aksi tersebut tidak menyasar jenis atau perusahaan truk tertentu. Pelemparan juga tidak selalu berkaitan dengan persoalan antara pengemudi dan kelompok tertentu. Bambang mengatakan, sejauh informasi yang diterimanya, truk yang menjadi sasaran pelemparan dipilih secara acak. "Targetnya gak ada. Asal truk, tapi gak tau kenapa gitu loh. Sembarang saja, cuman sebagai ngaco-ngacoin doang gitu. Nanti kalau ketarget kan biasanya mereka ngomongnya cuman iseng," ujarnya. Kondisi tersebut membuat aksi pelemparan batu sulit diprediksi. Pasalnya, tidak ada pola atau target tertentu yang dapat dijadikan acuan oleh pengemudi maupun perusahaan angkutan. Bambang juga membedakan aksi tersebut dengan pelemparan yang terjadi akibat konflik. Sejumlah truk mengangkut pasir timah ilegal dari rumah warga di Belitung, Selasa (4/8/2026). "Misalkan kalau misalnya orang Semarang, plat nomor Semarang tidak bisa ke Surabaya, karena PSIS main dengan Persebaya itu beda," ujarnya. "Ya itu kan ada efek-efek tertentu yang kita biasanya, oh jangan lewat dulu, karena kemarin ada bentrokan supporter. Tapi ini kan gak ada apa-apa gitu. Jadi gak ada pemicunya tau-tau dilempar gitu," ujarnya. Lebih jauh, aksi pelemparan batu terhadap truk yang kembali muncul tersebut disinyalir juga bukan persoalan antar kelompok atau persaingan trayek. "Dan kalau model mafia yang kayak misalnya orang Jawa Timur banyak trayek di Banten, terus orang Banten marah terus dilemparin, ya juga enggak," kata dia. Barang bukti dua truk tangki yang diamankan Ditreskrimsus Polda Riau dalam kasus penimbunan pertalite dan solar subsidi, Selasa (21/7/2026). Dengan demikian, pengusaha truk menghadapi persoalan yang relatif sulit diantisipasi karena pelaku maupun motif pelemparan belum diketahui secara jelas. Sulit dicegah Bambang mengatakan, langkah pencegahan juga tidak mudah dilakukan apabila tidak diketahui siapa pelaku dan apa motif di balik aksi tersebut. "Ya gak bisa, karena kita kan tidak tau motifnya ya. Karena gini," ujar Bambang. Menurut dia, kondisi tersebut membuat pengemudi maupun perusahaan angkutan perlu tetap waspada ketika melintas di wilayah yang sebelumnya terdapat laporan pelemparan.