Ilustrasi mobil listrik dan panel surya di rumah Pengguna mobil listrik di Indonesia pada umumnya memiliki dua pilihan utama untuk mengisi daya kendaraan, yakni melalui Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) atau melakukan pengisian di rumah menggunakan listrik PLN. Namun seiring berkembangnya teknologi energi terbarukan, muncul opsi ketiga yang mulai dilirik, yaitu pengisian kendaraan listrik menggunakan panel surya atau PLTS atap. Perbandingan metode pengisian ini menjadi relevan jika melihat pola penggunaan kendaraan pribadi di Jakarta yang relatif intens. Mobil harian di wilayah ibu kota dan penyangga umumnya menempuh sekitar 50–60 kilometer per hari, sehingga kebutuhan energi kendaraan listrik dapat diproyeksikan secara cukup konsisten. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Dengan jarak tempuh tersebut, kebutuhan energi mobil listrik berada di kisaran 9–11 kWh per hari atau sekitar 270–330 kWh per bulan. Angka ini menjadi dasar untuk membandingkan biaya pengisian antara SPKLU, listrik rumah tangga, dan PLTS atap.Dari sisi SPKLU, tarif pengisian publik berada di kisaran Rp2.466 per kWh dengan tambahan biaya layanan untuk pengisian cepat maupun ultra cepat. Berdasarkan kebutuhan energi bulanan kendaraan perkotaan, hasil perhitungan VIVA Otomotif menunjukkan biaya pengisian di SPKLU dapat berada di kisaran Rp660 ribu hingga Rp900 ribu per bulan, terutama jika sebagian pengisian menggunakan fasilitas cepat.Alternatif kedua adalah pengisian di rumah menggunakan listrik PLN yang menawarkan tarif lebih rendah dibanding SPKLU. Dengan tarif rumah tangga non-subsidi sekitar Rp1.699 per kWh, biaya pengisian mobil listrik untuk penggunaan harian Jakarta diperkirakan berada di kisaran Rp460 ribu hingga Rp560 ribu per bulan.Selain dua metode tersebut, panel surya rumah atau PLTS atap mulai dilihat sebagai opsi ketiga yang menawarkan pendekatan berbeda. Pengguna memang harus menanggung investasi awal instalasi, tetapi listrik yang dihasilkan setelah sistem terpasang dapat dimanfaatkan untuk pengisian kendaraan tanpa biaya energi langsung setiap kali digunakan.Untuk kebutuhan mobil listrik saja, sistem PLTS berkapasitas sekitar 1,5–2 kWp umumnya sudah mampu menyuplai energi tahunan kendaraan. Kapasitas ini sejalan dengan konsumsi mobil listrik yang digunakan harian di kota besar seperti Jakarta.Biaya pemasangan PLTS dengan kapasitas tersebut diperkirakan berada di kisaran Rp60 jutaan hingga Rp90 jutaan. Dengan asumsi umur pakai panel surya sekitar 25 tahun atau 300 bulan, biaya penggunaan sistem ini dapat diproyeksikan menjadi sekitar Rp206 ribu hingga Rp313 ribu per bulan.Pendekatan tersebut membuat PLTS memiliki struktur biaya berbeda dibanding SPKLU maupun listrik PLN rumah tangga. Pengguna membayar investasi di awal, lalu menikmati biaya energi kendaraan yang relatif stabil dan rendah dalam jangka panjang. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Dari sisi penggunaan, SPKLU menawarkan keunggulan kecepatan dan fleksibilitas lokasi, sedangkan pengisian PLN rumah memberikan kemudahan tanpa investasi tambahan. Sementara itu, PLTS atap menghadirkan kemandirian energi sekaligus potensi penghematan jangka panjang, meski membutuhkan kesiapan investasi awal.Dengan pola penggunaan mobil harian Jakarta, ketiga metode pengisian tersebut dapat saling melengkapi sesuai kebutuhan pengguna. SPKLU berperan sebagai pendukung mobilitas jarak jauh, listrik PLN menjadi solusi praktis di rumah, dan PLTS atap menjadi alternatif bagi pengguna yang ingin mengoptimalkan efisiensi energi kendaraan listrik.