Mobil listrik umumnya memiliki rekomendasi tekanan angin ban yang lebih tinggi dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal (ICE). Perbedaan ini bukan tanpa alasan, melainkan berkaitan dengan karakteristik kendaraan listrik yang memiliki bobot lebih besar dan torsi instan. Tekanan angin ban yang sesuai menjadi salah satu aspek penting untuk menjaga keselamatan, kenyamanan, sekaligus usia pakai ban. Jika diabaikan, risiko kerusakan ban dapat meningkat, terutama pada bagian dinding ban. Asep Faisal, Dep. Head Business Sales Support PT Gajah Tunggal Tbk, mengatakan, ada alasan khusus mengapa ban untuk mobil listrik menggunakan tekanan yang lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional. BMW i7 "Karena dia kan juga lebih berat (baterainya besar). Selain itu, mobil listrik juga memiliki torsi yang tinggi (high torsion)," ujar Asep, kepada wartawan, saat ditemui di Proving Ground Gajah Tunggal, di Karawang, Jawa Barat, belum lama ini. Menurut Asep, kombinasi bobot kendaraan yang lebih besar dan torsi instan membuat ban bekerja lebih berat, terutama ketika mobil mulai bergerak dari posisi diam. Karena itu, penggunaan tekanan angin yang sesuai sangat penting agar struktur ban tetap mampu menopang beban dan gaya puntir yang diterima. Risiko Dinding Ban Retak Asep menjelaskan, penggunaan ban yang tidak sesuai spesifikasi atau tekanan angin yang terlalu rendah dapat memicu kerusakan pada dinding ban. Champiro Ecotec EV ban buat mobil listrik "Kalau dia pakai ban yang tidak sesuai, salah satu dampaknya biasanya adalah munculnya retak-retak pada dinding ban," kata Asep. Ia menambahkan, saat ban mulai berputar dari kondisi diam, torsi besar yang disalurkan motor listrik akan menarik ban. Jika tekanan angin kurang, dinding ban menjadi lebih fleksibel sehingga mengalami deformasi lebih besar saat menerima beban. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memunculkan retakan pada struktur dinding ban. "Retaknya ada di dinding ban, kita biasa bilangnya radial crack," ujarnya. PT Honda Prospect Motor (HPM) akan memperkenalkan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) terbaru, Honda Super One, pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Selain tekanan angin, Asep juga mengingatkan pemilik mobil listrik untuk tidak sembarangan memilih ban pengganti. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah load index atau indeks beban ban. Load index menunjukkan kemampuan maksimum ban dalam menopang beban kendaraan. Apabila menggunakan ban dengan load index lebih rendah dari spesifikasi pabrikan, maka risiko kerusakan ban akan semakin besar. "Jadi, ini ada hubungannya dengan kekuatan ban menahan beban itu. Makanya, jangan sampai ban yang digunakan di bawah dari load index ban standarnya," katanya.