Saya berkesempatan mencoba langsung Jaecoo J7 SHS-P, dari desain, fitur, hingga dibawa perjalanan jauh saat mudik. Hasilnya? Mobil ini terasa seperti paket lengkap, meski tetap ada beberapa catatan. Dari sisi tampilan, kesan pertama yang saya dapat adalah gagah dan premium. Desainnya mengusung gaya boxy yang mengingatkan saya pada SUV khas Land Rover. Gril depan besar, lampu LED tajam, dan bodi tegas membuat tampilannya terlihat modern. Dimensinya juga lebih besar dibanding rival seperti Honda HR-V dan Toyota Yaris Cross, yang berdampak langsung pada kabin lebih lega. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Interiornya pun terasa premium dengan dominasi material soft touch, meski ada detail seperti tombol power window yang butuh adaptasi. Masuk ke fitur dan kepraktisan, saya cukup terkesan. Sistem keyless entry dengan auto unlock/lock benar-benar memudahkan, meski kadang justru sedikit merepotkan saat kita berada di sekitar mobil. Fitur lain seperti panoramic sunroof besar, power tailgate, hingga kemampuan V2L yang bisa menyuplai listrik hingga 3.300 watt terasa sangat fungsional. Bahkan mobil ini sudah mendukung fast charging DC hingga 40 kW. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Tapi secara umum, pengaturan seluruh fitur dalam satu layar sebenarnya agak merepotkan, terutama saat berkendara sendiri. Misal ketika ingin mengatur spion, kita harus masuk dulu ke dalam beberapa menu di layar sentuh. Soal rasa berkendara, ini salah satu bagian yang paling menarik. Mobil ini terasa seperti EV dalam banyak kondisi. Tarikan awal halus dan instan berkat motor listrik yang dominan. Dalam kondisi macet, kabin terasa senyap dan nyaman. Suspensinya juga cukup seimbang, dengan body roll yang masih terkendali saat menikung, meski terasa agak kaku. Saat melewati jalan rusak, getaran masih sedikit terasa, dan radius putarnya juga butuh ruang saat putar balik. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Pengujian konsumsi BBM saat mudik Lebaran 2026 jadi bukti nyata efisiensinya. Konsumsi BBM yang tercatat mencapai sekitar 25 km per liter, dengan dukungan mode EV hingga 100 km. Saya berangkat dengan full tank dan baterai penuh, lalu menempuh perjalanan hingga 1.500 km tanpa isi bensin sama sekali di perjalanan. Strateginya sederhana, dengan mengecas di SPKLU di lokasi tujuan agar penggunaan mesin bensin tetap optimal. Hasilnya, efisiensi tetap terjaga tanpa terasa ribet. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Dari sisi biaya perawatan, mobil ini juga cukup bersahabat. Total biaya servis selama 4 tahun sekitar Rp 12,6 juta, atau rata-rata Rp 3,1 juta per tahun. Jika dibagi bulanan, hanya sekitar Rp 260.000. Dengan tambahan fakta bahwa jasa servis gratis hingga 4 tahun, biaya ini terasa masih sangat masuk akal untuk ukuran SUV hybrid dengan teknologi kompleks. Secara keseluruhan, pengalaman saya dengan Jaecoo J7 SHS-P cukup positif. Mobil ini menawarkan kombinasi desain menarik, fitur melimpah, rasa berkendara nyaman, efisiensi tinggi, dan biaya perawatan yang masih rasional. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Kelebihan:- Desain gagah dan dimensi lebih besar dari rival- Fitur lengkap dan praktis, termasuk V2L dan fast charging- Rasa berkendara halus dan stabil- Konsumsi BBM irit, tembus 25 km per liter (rute kombinasi)- Biaya perawatan relatif terjangkau Kekurangan:- Pengaturan fitur serba di layar, merepotkan saat berkendara- Ergonomi detail seperti power window perlu adaptasi- AC belakang kurang optimal- Bantingan suspensi kurang nyaman di jalan kasar- Perlu strategi penggunaan untuk efisiensi maksimal KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang