BOGOR, KOMPAS.com - Pemandangan deretan mobil Eropa yang terparkir rapi dalam waktu lama menjadi hal yang lumrah di bengkel spesialis. Banyak asumsi bahwa mobil-mobil tersebut mengalami kerusakan mesin yang sangat parah atau rumit untuk diperbaiki. Namun, anggapan tersebut ternyata keliru. Bengkel mobil Eropa New Benefit Auto Service di Bogor Alasan utama di balik banyaknya "pasien" mobil Eropa yang diam berhari-hari, bahkan berminggu-minggu di bengkel sebenarnya berkaitan dengan faktor kesabaran pemiliknya dalam berburu suku cadang. Effry, dari bengkel spesialis mobil Eropa New Benefit Auto Service di Bogor, mengungkapkan bahwa jika berbicara soal ketersediaan, suku cadang baru dan orisinal untuk mobil Eropa sebenarnya selalu ada, bahkan proses pengirimannya pun tergolong sangat cepat. "Sebenarnya masalah di harga saja, semua ada. Tapi kalau mau dicari yang baru pasti ada, komplet di Jakarta. Waktu kalau langsung pesen, besok juga sudah dateng. Gampang," ujar Effry kepada Kompas.com, belum lama ini. Lantas, mengapa mobil-mobil tersebut tetap harus mengantre lama di bengkel? Masalah utamanya ada pada faktor harga suku cadang baru dan orisinal yang sering kali dirasa terlalu tinggi atau "tidak masuk" dengan kalkulasi pemilik mobil. Terlebih, komponen orisinal bisa dibanderol tiga hingga empat kali lipat lebih mahal. Demi menyiasati pembengkakan biaya perbaikan tersebut, pemilik mobil akhirnya memilih jalan alternatif, yaitu berburu komponen copotan atau mencari produk aftermarket dengan kualitas di bawah orisinal yang harganya lebih bersahabat. Konsekuensinya, proses pencarian komponen alternatif ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pemilik mobil maupun pihak bengkel harus lebih sabar mencari modul atau suku cadang yang cocok di pasaran. "Ya sabar sama di duitnya. Soalnya banyak nunggunya, onderdilnya," kata Effry. Menurut Effry, ekosistem suku cadang mobil Eropa saat ini sebenarnya sudah semakin fleksibel dan mirip dengan mobil Jepang karena memiliki banyak pilihan tingkatan kualitas yang bisa disesuaikan dengan isi dompet. Namun, jika pemilik memutuskan untuk tidak membeli komponen baru yang orisinal, mereka harus siap mengorbankan waktu. Mobil kesayangan pun terpaksa harus rela "nongkrong" lebih lama di dalam bengkel sampai suku cadang alternatif yang ramah kantong berhasil didapatkan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang