Pengguna "sepeda motor bensin cetus api" mulai tertarik beralih dan menggunakan motor listrik untuk kebutuhan mobilitas harian. Selain menawarkan karakter berkendara yang berbeda dari motor bensin, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi salah satu faktor yang mendorong konsumen mulai melirik kendaraan listrik. Meski demikian, ketertarikan terhadap motor listrik belum serta-merta membuat konsumen meninggalkan motor bensin. Kebutuhan jarak tempuh, pola mobilitas, hingga ketersediaan infrastruktur pengisian daya dan penukaran baterai masih menjadi pertimbangan sebelum membeli. Harga bensin Jajang, dari Bandung, Jawa Barat, mengatakan dirinya mulai tertarik menggunakan motor listrik. Salah satu pertimbangannya adalah harga bensin yang dinilai semakin sulit dijangkau. Mesin Dispenser Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu Pertamina di SPBU di Kota Makassar, Selasa (1/9/2026) “Sekarang, jujur tertarik. Harga bensin kan sudah naik, jadi agak lebih tidak terjangkau. Saya sekarang juga sepedaan," kata Jajang kepada Kompas.com, Kamis (8/10/2026). "Sepeda saja sudah jadi opsi, apalagi motor listrik yang notabene sebenarnya seperti motor biasa,” ujar Jajang. Menurut dia, motor listrik juga mulai masuk dalam pertimbangan karena dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari dengan jarak yang tidak terlalu jauh. “100 kilometer juga sudah cukup, untuk bolak-balik rumah-kantor dan nongkrong,” katanya. Namun, Jajang belum melihat motor listrik sebagai pengganti sepenuhnya motor bensin. Motor dengan mesin pembakaran internal masih dianggap penting, terutama untuk perjalanan dengan jarak yang lebih jauh. “Tapi mungkin motor bensin itu bakal keluarnya tidak selalu. Biasanya perjalanan jauh pakai motor bensin,” ucapnya. Motor listrik Pertimbangan Utama Hal serupa disampaikan Rizal, asal Depok, Jawa Barat, yang mulai tertarik beli motor listrik. Namun menurutnya masih sangat bergantung pada kebutuhan dan pola penggunaan. “Tertarik. Kalau tertarik sebenarnya lihat kebutuhan. Bisa jadi opsi baru. Jadi, penggunaannya itu tadi, lihat dari kebutuhan,” kata Rizal. Untuk penggunaan harian, Rizal menilai motor listrik sebenarnya dapat memenuhi kebutuhan apabila jarak perjalanan masih berada dalam jangkauan baterai. “Saya pulang pergi sekitar 40 kilometer. Sebenarnya masuk range, tapi kalau misalnya benar-benar cuma A ke B, B ke A lagi. Makanya tadi kalau mobilitas tinggi, tidak,” ujarnya. Ia menilai motor listrik lebih masuk akal digunakan untuk aktivitas yang memiliki pola perjalanan sederhana dan relatif terukur. Sebaliknya, kendaraan tersebut menjadi kurang praktis ketika pengguna memiliki mobilitas tinggi dan harus berpindah-pindah tempat dalam satu hari. Motor listrik Honda QC3 Karena itu, Rizal melihat motor listrik dapat menjadi pilihan untuk anggota keluarga dengan aktivitas yang lebih rutin, seperti mengantar dan menjemput anak. “Belum, kecuali misalnya buat istri. Bisa jadi opsi itu. Misalnya rumah, jemput anak sekolah, balik lagi, itu bisa,” katanya. Masih Tunggu Infrastruktur Berbeda dengan yang lain, Bimo dari Pamulang, Tangerang Selatan, mengaku belum tertarik menggunakan motor listrik karena kebutuhan jarak tempuhnya cukup tinggi. “Belum, karena belum ada yang jaraknya jauh,” ujar Bimo. Menurut dia, jarak tempuh ideal untuk motor listrik setidaknya bisa menempuh 100 kilometer dalam penggunaan sehari-hari. Pertimbangan tersebut muncul karena perjalanan di wilayah perkotaan tidak selalu berjalan sesuai jarak teoritis. Stasiun pengisian daya motor listrik Alva “100 kilometer lah, buat sehari 100 kilometer. Karena macet dan segala macam, itu jadi pertimbangan saya,” katanya. Bimo juga menilai ketersediaan fasilitas pengisian daya dan penukaran baterai masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. “Terus juga charging station-nya belum ada. Penukaran baterai juga tidak ada. Jarang, masih jarang,” ucapnya. Dalam aktivitas sehari-hari, Bimo memperkirakan membutuhkan jarak tempuh lebih dari 60 kilometer. “Kalau aktivitas harian buat saya, ya 60 kilometer ke atas. Saya di Pamulang, ke Serpong, terus ke tengah lagi, ke Jakarta, kemudian balik lagi ke Pamulang,” ujar Bimo. Dengan pola mobilitas seperti itu, keberadaan fasilitas pengisian atau penukaran baterai menjadi semakin penting. Battery Swap Station VinFast E-Motorcycle sudah tembus 2.000 titik di Indonesia Sebab, kapasitas baterai saja tidak menjadi satu-satunya faktor yang menentukan kenyamanan penggunaan motor listrik. Battery swap Meski memiliki kebutuhan mobilitas yang cukup tinggi, Bimo mengatakan sistem battery swap dapat menjadi salah satu opsi yang menarik. “Saya kepikirannya swap. Jadi bisa tukar baterai kalau habis. Kayak beli galon,” katanya. Bagi konsumen seperti Bimo, sistem tersebut memberikan fleksibilitas karena pengguna tidak harus menunggu proses pengisian baterai ketika daya sudah menipis. Pada akhirnya, alasan konsumen mempertimbangkan motor listrik tidak hanya berkaitan dengan harga kendaraan atau biaya energi. Pola penggunaan, jarak tempuh harian, kebutuhan perjalanan, serta kesiapan infrastruktur turut menentukan apakah motor listrik sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengguna.