Infrastruktur pengisian daya menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan kendaraan listrik, termasuk sepeda motor listrik. Berbeda dengan motor konvensional yang dapat mengandalkan jaringan SPBU yang sudah tersebar luas, pengguna motor listrik masih perlu memperhitungkan lokasi pengisian daya, terutama ketika melakukan perjalanan jauh. Tantangan pengisian daya motor listrik memiliki dua sisi. Di satu sisi, jaringan fasilitas pengisian masih perlu diperluas agar pengguna lebih leluasa melakukan perjalanan jauh. Sisi lain, bagi pengguna yang bisa mengisi daya di rumah, persoalannya lebih banyak berkaitan dengan persepsi mengenai biaya listrik dan kebutuhan menyesuaikan pola penggunaan energi. Abdullah, pemilik Dolland Motor Electric, bengkel spesialis motor listrik, mengatakan, ketersediaan fasilitas pengisian daya masih belum merata, terutama untuk perjalanan jarak jauh. DRMA kembangkan unit fast charging untuk sepeda motor listrik "Kondisi jaringannya masih kurang luas, jadi masih terbatas jika ingin melakukan rombongan touring atau pergi ke tempat-tempat wisata," katanya kepada Kompas.com, Selasa (6/10/2026). "Sebab, di tempat wisata juga belum banyak yang menyediakan atau bahkan jarang ada," ujarnya. Tantangan Listrik di Rumah Adapun pengguna yang memiliki rumah dengan sumber listrik yang memadai, pengisian daya relatif lebih mudah karena bisa dilakukan secara mandiri. Motor dapat diisi ketika tidak digunakan sehingga baterai siap digunakan kembali untuk aktivitas berikutnya. Situasinya berbeda bagi pengguna yang tinggal di tempat yang kurang baik dan bergantung pada fasilitas pengisian umum atau fasilitas yang disediakan diler dan lokasi tertentu. Motor listrik bekas Kondisi ini membuat perencanaan perjalanan menjadi lebih penting, khususnya ketika pengguna hendak keluar kota atau menuju daerah wisata. Selain jarak antar-fasilitas pengisian, keberadaan sumber listrik di lokasi tujuan juga menjadi pertimbangan. Jika tempat wisata atau lokasi menginap tidak menyediakan fasilitas pengisian, pengguna harus memperhitungkan kapasitas baterai sebelum melanjutkan perjalanan. Bukan Cuma Pasokan Listrik Namun Hendro Sutono, pegiat kendaraan listrik sekaligus Admin KOSMIK Indonesia, menilai persoalan infrastruktur tidak selalu berkaitan dengan kemampuan jaringan listrik memasok daya. Menurut dia, masyarakat juga masih memiliki kekhawatiran mengenai biaya listrik apabila kendaraan listrik digunakan secara rutin. Baterai motor listrik Gesits Raya G, yang jadi salah satu contoh baterai litium. "Sisi teknis pasokan listrik sebenarnya tidak menjadi masalah utama, terlebih dengan hadirnya berbagai program kemudahan penambahan daya rumah tangga dari PLN," katanya. "Kendala terbesar justru terletak pada faktor psikologis dan persepsi masyarakat, yaitu kekhawatiran berlebih bahwa tagihan listrik bulanan akan melonjak tajam," ujarnya. Hendro mengatakan, penggunaan listrik untuk mengisi baterai kendaraan pada dasarnya perlu dilihat sebagai pengalihan biaya energi yang sebelumnya digunakan untuk membeli BBM. "Secara faktual, peningkatan tagihan listrik tersebut bukanlah biaya tambahan baru," katanya. "Melainkan alokasi ulang (shifting budget) dari anggaran pembelian BBM rutin ke tagihan listrik bulanan, dengan total pengeluaran harian yang justru jauh lebih efisien," ujarnya.