Pemandangan unik sempat mencuri perhatian pengguna jalan di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, pada Maret 2026. Marka jalan yang biasanya berupa garis putih kaku, berubah menjadi karakter gim legendaris Pac-Man yang seolah sedang "melahap" titik-titik di aspal. Aksi ini merupakan inisiasi dari kreator konten bernama Ijoel yang peduli lingkungan dan lalu-lintas Jakarta. Gerakan ini lahir dari rasa kepedulian terhadap fasilitas publik yang mulai memudar dan luput dari perhatian otoritas terkait. Ijoel mengungkapkan bahwa aksi yang dilakukan bersama lima orang rekannya itu mendapat respons yang sangat masif di jagat maya maupun media arus utama. "Kalau melihat dari selanjutnya viral itu, ya, banyak masuk media. Mungkin 90 persen yang kita lihat itu positif. Positif, ya, bahkan cuma dua persen atau cuma dikit bangetlah pokoknya yang membahas soal-soal itu," ujar Ijoel kepada Kompas.com, Kamis (30/4/2026). "Geregetan" Meski menuai banyak pujian, Ijoel menyadari bahwa aksi mengecat jalanan bukanlah ranah masyarakat sipil secara legal. Namun, kondisi di lapangan yang dinilai membahayakan pejalan kaki membuatnya memilih untuk bergerak lebih cepat. Zebra cross Pac-Man viral di tebet "Pertama, kalau dibilang bukan kewenangan, memang bukan kewenangan warga, ya. Kita kan orang sipil istilahnya," ucapnya. Menurut Ijoel, lokasi tersebut merupakan area padat di mana banyak orang lalu-lalang, namun kondisi zebra cross-nya sudah tidak layak atau bahkan hilang. Menunggu proses birokrasi yang memakan waktu dirasa bukan pilihan bijak saat keselamatan warga menjadi taruhannya. "Karena sudah geregetan di situ, yang mana kita biasa lakuin itu, ya sudah, kita eksekusi ajalah daripada lama nunggu. Terus juga orang makin bahaya, orang lalu-lalang," tambah Ijoel. Zebra cross Pac Man yang digambar warga di Jalan Dr. Soepomo, Tebet, masih terpampang setelah diisukan sudah dihapus, Selasa (31/3/2026). Riset Meski pengerjaannya dilakukan secara "dadakan" pada dini hari saat libur Lebaran, Ijoel memastikan bahwa mereka tetap melakukan riset agar marka tersebut tidak membahayakan pengendara. Prosesnya dilakukan menggunakan cat semprot kaleng (spray) yang cepat kering dan memasang pembatas jalan (cone). Saat selesai, Ijoel mengatakan zebra cross tersebut kembali berfungsi dengan sentuhan seni yang menyegarkan mata. Bagi Ijoel, dukungan publik yang tinggi adalah bukti bahwa masyarakat merindukan aksi nyata untuk perbaikan fasilitas umum. "Di atas 90 persen positif dan kepakai kok zebra cross-nya, gitu," pungkasnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang