Dalam setahun terakhir ini sedang dilanda fenomena perang harga yang sangat agresif dari pabrikan asal Cina. Mobil Cina tidak hanya menawarkan fitur mewah, tetapi juga melakukan seting harga yang sangat kompetitif. Model Chery Omoda E5, harga turun drastis menjadi Rp 369,9 juta hingga Rp 399 juta, jauh di bawah harga peluncuran awal yang mencapai Rp 498 juta. Atau Wuling Air EV Long Range yang mengalami koreksi harga menjadi Rp 195 juta, padahal sebelumnya sempat dibanderol Rp 295 juta dan masih banyak lagi. Ada beberapa faktor utama yang memungkinkan pabrikan Cina. Misal, insentif Pemerintah berupa PPN 1%, pembebasan bea masuk, dan PPnBM untuk mobil listrik (EV) memberikan ruang harga yang lebih rendah bagi konsumen. Sales & Channel Development Director of Geely Auto Indonesia Constantinus Herlijoso menyebutkan insentif membuat pasar kendaraan listrik bertumbuh. “Secara bisnis, secara operasional insentif membuat harga lebih kompetitif,” kata Herlijoso. Produksi Lokal (CKD), banyak merek sudah dan mulai membangun pabrik di Indonesia seperti Wuling dan BYD, yang membantu memangkas pajak impor dan meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selain itu, strategi Volume, produsen mobil cina prioritaskan pengejaran pangsa pasar dan volume penjualan tinggi untuk mencapai skala ekonomi yang menurunkan biaya produksi per unit. Strategi ini juga membuat merek Jepang menghadirkan varian hybrid di bawah Rp 300 juta untuk tetap kompetitif Bagi konsumen, apakah ini waktu yang menguntungkan karena pilihan fitur canggih kini tersedia dengan harga yang jauh lebih terjangkau?