Beragam produk aftermarket kerap ditawarkan dengan klaim dapat membuat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) kendaraan menjadi lebih irit. Produk tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perangkat elektronik yang dipasang pada sistem kelistrikan, magnet, fuel catalyst, aditif BBM, hingga perangkat yang dipasang pada sistem pemasukan udara. Cara kerjanya cukup beragam mulai menstabilkan arus listrik, memperbaiki kualitas pembakaran, membuat BBM lebih mudah terbakar, hingga meningkatkan efisiensi mesin. Namun, sebelum mengeluarkan uang untuk membeli perangkat tambahan, ada hal yang justru lebih mendasar untuk diperhatikan, yakni kondisi kendaraan dan cara mengemudikannya. Lantas, bagaimana pandangan mekanik bengkel terhadap produk-produk yang diklaim bisa menghemat BBM tersebut? Octane Booster Kondisi mobil Sapta Agung Nugraha, Service Head Auto2000 Cilandak, mengatakan efisiensi BBM pada dasarnya tidak hanya ditentukan oleh adanya perangkat tambahan pada kendaraan. Menurut dia, penghematan BBM lebih berkaitan dengan bagaimana kendaraan dirawat dan digunakan sehari-hari. "Kalau untuk hemat BBM, lebih ke bagaimana mengelola kendaraan, mulai dari kondisi mesin, penggunaan BBM yang tepat, teknik berkendara, sampai strategi berkendara," katanya kepada Kompas.com, Jumat (2/10/2026). Agung mengatakan, kendaraan modern sudah dilengkapi berbagai sistem yang mengatur kerja mesin berdasarkan kebutuhan. Sistem tersebut akan menyesuaikan suplai bahan bakar, pengapian, hingga respons mesin berdasarkan kondisi berkendara. Karena itu, pemasangan aksesori aftermarket tidak otomatis membuat konsumsi BBM menjadi lebih hemat. Ilustrasi pemasangan magnet di mobil. "Karena sebenarnya, teknologi kendaraan saat ini sudah mengatur konsumsi BBM sesuai pola berkendara dan kondisi lingkungan," ujarnya. Maksimal Pandangan serupa disampaikan Arif dari Sinar Raya Motor, Bursa Otomotif Bintaro, Tangerang Selatan. Arif yang lama jadi mekanik di bengkel resmi pabrikan Jepang mengatakan, kondisi komponen kendaraan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi konsumsi BBM. "Tapi salah satu faktornya adalah kondisi mesinnya sendiri. Kalau komponen mesinnya sudah mengalami keausan, dudukan atau mounting-nya sudah bermasalah, dan jalur-jalurnya juga bermasalah, itu kan bisa menjadi hambatan," katanya. Mesin yang mengalami keausan atau memiliki komponen yang tidak bekerja optimal dapat membuat kerja kendaraan menjadi tidak efisien. Ilustrasi coil booster Begitu pula dengan komponen pendukung lain. Masalah pada sistem mesin, kelistrikan, hingga bagian yang menambah beban kerja kendaraan bisa berdampak terhadap konsumsi BBM. "Jadi, kalau disimpulkan, kondisi mesin harus dalam kondisi maksimal," ujar Arif. Dengan kondisi seperti itu, memasang perangkat aftermarket yang diklaim dapat menghemat BBM belum tentu menyelesaikan sumber masalahnya. Cara mengemudi Kamal, pemilik Bengkel Kafka di Bogor, menilai ada cara yang jauh lebih sederhana dan murah untuk menghemat BBM, yakni mengubah gaya berkendara. Menurut dia, kebiasaan pengemudi ketika menginjak pedal gas, terutama saat menghadapi kondisi stop and go, memiliki pengaruh besar terhadap konsumsi BBM. Ilustrasi coil booster "Versi saya, paling penting itu gaya berkendara. Itu sudah paling pengaruh. Seagresif apa menginjak gas, di saat stop & go, itu pengaruhnya besar sekali," kata Kamal kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2026). Pada mobil matik, misalnya, pengemudi tidak selalu harus menginjak pedal gas ketika kendaraan mulai bergerak setelah berhenti. Saat kondisi lalu lintas memungkinkan, mobil dapat dibiarkan merayap menggunakan tenaga mesin tanpa terus menambah gas. Kebiasaan menginjak gas dalam-dalam kemudian kembali mengerem dalam kondisi macet justru membuat energi terbuang percuma. "Kalau berkendara di tol, tahan di 2.000 rpm sampai 2.500 rpm. Memang di mobil dengan mesin kecil, jadi tidak begitu kencang,” ujarnya. Ilustrasi mengemudi Bijak Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa efisiensi BBM sebenarnya merupakan hasil dari beberapa faktor yang saling berkaitan. Mulai dari kondisi mesin, perawatan kendaraan, pemilihan BBM sesuai rekomendasi pabrikan, hingga gaya berkendara. Namun, klaim bahwa sebuah perangkat secara otomatis membuat mobil lebih irit BBM perlu dilihat secara kritis. Pasalnya, penghematan BBM tidak cukup dibuktikan hanya dengan perbedaan konsumsi sebelum dan sesudah pemasangan perangkat. Kondisi lalu lintas, rute, kecepatan, beban kendaraan, tekanan ban, penggunaan AC, hingga gaya mengemudi harus dibuat sebanding agar hasil pengujian dapat dipercaya. Dengan kata lain, sebelum mencari cara menghemat BBM lewat aksesori tambahan, langkah paling sederhana justru memastikan mobil dalam kondisi prima dan memperbaiki kebiasaan mengemudi.