Nissan Motor Co. melepas kantor pusat globalnya di Yokohama, Jepang, dengan nilai transaksi mencapai 97 miliar yen atau sekitar Rp 10 triliun. Penjualan aset tersebut menjadi bagian dari langkah restrukturisasi besar-besaran yang sedang ditempuh perusahaan untuk memperbaiki kondisi keuangannya. Mengutip Reuters, Nissan akan mencatat pendapatan luar biasa senilai 73,9 miliar yen dari hasil transaksi itu pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Trail e-Power with e-4ORCE meluncur di GIIAS 2025 Adapun skema yang digunakan adalah sale and leaseback selama 20 tahun, sehingga perusahaan tetap menempati gedung yang sama meski kepemilikan telah berpindah tangan. Aset tersebut dijual kepada entitas bernama MJI Godo Kaisha, dengan perjanjian sewa dilakukan bersama Mizuho Trust & Banking. Namun nilai pembayaran sewa tidak diungkapkan atas permintaan pihak pembeli. Menurut laporan, perusahaan tujuan khusus yang disponsori oleh Minth Group, pabrikan komponen otomotif yang terdaftar di Bursa Hong Kong dan dikelola oleh unit ekuitas global KKR & Co itu, menjadi pembelinya dengan nilai sekitar 90 miliar yen. Gedung yang dijual merupakan markas besar perusahaan sejak 2009, menggantikan kantor lama di kawasan Ginza, Tokyo, dan menjadi simbol kehadiran kembali Nissan di kota tempatnya didirikan. Serena e-Power GIIAS 2024 Tekanan Fiskal dan Gelombang PHK Penjualan aset strategis ini tidak lepas dari tekanan keuangan yang tengah dihadapi Nissan. Sebelumnya, pabrikan otomotif asal Jepang tersebut berencana memangkas hingga 10.000 karyawan di seluruh dunia, menambah total pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi sekitar 20.000 orang atau 15 persen dari tenaga kerja globalnya. Nissan terpaksa melakukannya untuk merespons penurunan penjualan di dua pasar utama, yakni China dan Amerika Serikat. Mereka bahkan memperkirakan akan mencatat kerugian bersih antara 700 miliar yen hingga 750 miliar yen (sekitar Rp 75 triliun) untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2025. Kerugian itu sebagian besar dipicu oleh kegagalan perseroan memanfaatkan tren kendaraan hybrid di AS serta menurunnya daya saing di segmen mobil listrik di China. Untuk menekan beban, sejumlah proyek pun dibatalkan, termasuk pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik senilai 1,1 miliar dolar AS di Pulau Kyushu, Jepang. Kemitraan Honda dan Nissan Mencari Mitra Di tengah tekanan finansial yang berat, Nissan berupaya mencari mitra strategis baru untuk memperkuat posisi bisnisnya. Perusahaan sempat menjajaki rencana merger dengan Honda, namun negosiasi yang berlangsung sejak akhir 2024 kandas pada Februari 2025. Dalam pertemuan antara CEO Nissan Makoto Uchida dan CEO Honda Toshihiro Mibe, pembicaraan berakhir setelah Honda mengusulkan agar Nissan berada di bawah struktur mereka sebagai anak perusahaan. Padahal, rencana awal adalah membentuk kemitraan setara yang berpotensi menjadikan mereka grup otomotif terbesar ketiga di dunia. Setelah pembatalan tersebut, Nissan membuka peluang kolaborasi dengan perusahaan teknologi. Salah satu kandidat potensial adalah Foxconn, raksasa elektronik asal Taiwan yang juga memproduksi iPhone dan iPad. Foxconn diketahui pernah mengajukan proposal kerja sama dengan Nissan pada Desember 2024 untuk masuk ke bisnis kendaraan listrik, namun hingga kini belum mencapai kesepakatan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.