Mobil hybrid Mobil hybrid selama ini dikenal sebagai kendaraan yang lebih efisien dibanding mobil bermesin konvensional. Kombinasi mesin bensin dan motor listrik membuat konsumsi bahan bakarnya lebih hemat, terutama untuk penggunaan di dalam kota. Namun sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa mobil hybrid ternyata cukup sensitif terhadap perubahan suhu lingkungan. Bahkan dalam kondisi cuaca panas, efisiensi bahan bakarnya bisa mengalami penurunan yang cukup terasa. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Penelitian tersebut dilakukan oleh AAA di Amerika Serikat menggunakan tiga mobil hybrid dan tiga mobil listrik. Disadur VIVA Otomotif dari laman resminya, Selasa 12 Mei 2026, seluruh kendaraan diuji di ruangan khusus dengan dynamometer yang mensimulasikan kondisi berkendara nyata di berbagai temperatur.Pengujian dilakukan pada suhu 23 derajat Celsius sebagai kondisi normal, lalu dibandingkan dengan kondisi panas 35 derajat Celsius dan dingin minus 6 derajat Celsius. Sistem pendingin kabin kendaraan juga diaktifkan agar menyerupai penggunaan harian.Hasilnya cukup menarik karena mobil hybrid justru mengalami penurunan efisiensi lebih besar saat cuaca panas dibanding mobil listrik. Pada temperatur 35 derajat Celsius, efisiensi bahan bakar hybrid turun rata-rata 12 persen.Penurunan tersebut dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya kerja sistem pendingin udara yang lebih berat. Ketika AC bekerja lebih keras, mesin bensin dan sistem kelistrikan kendaraan juga membutuhkan energi tambahan.Selain itu, suhu tinggi juga memengaruhi performa baterai dan sistem manajemen energi pada kendaraan hybrid. Akibatnya, motor listrik tidak selalu dapat bekerja seefisien kondisi temperatur ideal.Meski demikian, kondisi dingin ternyata tetap menjadi tantangan terbesar bagi kendaraan elektrifikasi. Dalam pengujian suhu dingin, mobil hybrid mengalami penurunan efisiensi hingga sekitar 22 persen.Sementara mobil listrik mencatat penurunan jarak tempuh yang jauh lebih besar ketika suhu ekstrem dingin. Efisiensi kendaraan listrik dalam penelitian tersebut turun lebih dari 35 persen dibanding kondisi normal.Fenomena ini menunjukkan bahwa faktor cuaca memiliki pengaruh besar terhadap konsumsi energi kendaraan modern. Karena itu, angka konsumsi bahan bakar atau jarak tempuh resmi sering kali berbeda dengan kondisi penggunaan di dunia nyata. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Bagi pengguna mobil hybrid di negara beriklim tropis seperti Indonesia, suhu panas harian juga dapat memengaruhi efisiensi kendaraan meski tidak seekstrem negara empat musim. Penggunaan AC secara terus-menerus dan kondisi lalu lintas padat bisa membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih tinggi.Meski begitu, mobil hybrid tetap menawarkan efisiensi lebih baik dibanding kendaraan konvensional dalam banyak kondisi. Pengguna hanya perlu memahami bahwa performa dan efisiensi kendaraan elektrifikasi sangat dipengaruhi oleh temperatur lingkungan serta pola penggunaan sehari-hari.