Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat banyak masyarakat lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Daya beli belum kembali seperti beberapa tahun lalu, sementara harga kebutuhan pokok hingga biaya hidup terus meningkat. Meski demikian, kondisi tersebut tidak lantas menghilangkan minat masyarakat untuk membeli mobil baru. Hal itu terlihat di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang digelar di ICE BSD City, Tangerang. Pengunjung tetap memadati pameran otomotif yang diklaim terbesar di dunia, tapi di luar China, untuk melihat berbagai model terbaru, membandingkan produk, hingga mencari kendaraan yang sesuai kebutuhan. Suzuki XL7 Meluncur di GIIAS 2026 Alasan membeli mobil baru tidak sekadar mengejar model terbaru atau gengsi. Saya berbincang dengan beberapa orang pengunjung langsung soal alasan ini. Efisiensi biaya operasional, kepastian kondisi kendaraan, hingga kebutuhan keluarga dan pekerjaan menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Simak obrolan berikut. Perhitungan Matang Rian, pengunjung asal Jakarta, mengaku tetap mempertimbangkan membeli mobil baru meski kondisi ekonomi saat ini menuntut perencanaan yang lebih cermat. Menurut dia, keputusan membeli kendaraan harus disesuaikan dengan kemampuan finansial agar tidak menjadi beban di kemudian hari. "Hitung-hitungannya mesti pas juga ya, jangan sampai nanti salah perhitungan sebenarnya. Iya, masih aja," katanya kepada Kompas.com, di ICE BSD City, Tangerang, akhir pekan lalu. Meski demikian, Rian menilai mobil baru masih menawarkan rasa tenang karena kondisi kendaraan masih prima dan minim risiko. "Karena mobil baru pasti perawatannya atau kondisinya masih oke (ketimbang seken). Cuma tadi dilihat dengan harga dan kondisi ekonomi memang perlu dihitung matang-matang lagi," ujarnya. Pandangan serupa disampaikan Dhea. dhea Pengunjung GIIAS Menurut dia, membeli mobil baru tetap layak dilakukan selama sesuai dengan kemampuan keuangan. Ia mengatakan, memiliki tabungan menjadi syarat penting agar pembelian kendaraan tidak mengganggu kondisi finansial. "Tergantung kebutuhan. Balik lagi ya kan kalau misalnya emang butuh banget, worth it itu tabungannya ada. Kalau misalnya enggak ada uangnya buat apa," kata Dhea. "Cuma ya apalagi untuk orang yang emang pintar menghemat uang, buat aku mungkin dia layak untuk merayakan sesuatu, apalagi orang-orang yang sudah kerja keras," ujarnya. Kebutuhan Prioritas Chandra, pengunjung asal Karawang, mengatakan keputusan membeli mobil saat ini harus benar-benar didasarkan pada kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Ia mengaku sebenarnya sudah memiliki mobil, tetapi datang ke GIIAS 2026 untuk mencari referensi apabila nantinya ingin mengganti kendaraan dengan model yang lebih efisien. "Sebenarnya sih kalau untuk beli mobil untuk saat ini ya sesuaikan dengan kebutuhan aja. Kalau emang ada kebutuhan terutama untuk fasilitas pekerjaannya itu emang penting sih. Jadi kita usahakan cari mobil yang efisien ya mungkin listrik," ujarnya. "Sebenarnya saya sudah ada, cuma yang ini pengin nambah referensi aja. Mungkin ganti," kata Chandra. Hal senada disampaikan Yeni, pengunjung asal Serang, Banten. Menurut dia, memilih mobil harus mempertimbangkan fungsi serta biaya operasional, bukan semata-mata gengsi. VinFast VF 3 di GIIAS 2026 Ia mengaku datang ke GIIAS untuk mencari mobil listrik yang dinilai lebih hemat digunakan sehari-hari. "Tergantung lihat merek brand-nya, jenisnya, tergantung juga dari kebutuhan kita ya menggunakan. Kalau kita mementingkan yang gengsi pastikan mobil-mobil yang 'ponsel' gitu ya yang mahal. Tapi kalau kita memang saya nih untuk anak-anak cuma bawa sekolah, mau hemat, saya pengin cari yang hemat karena listrik kan. Listriknya yang hemat biar enggak keluar biaya bensin kan. Nah, itu saya ke sini tujuannya mau hemat gitu kan," ujar Yeni. Lebih Aman Satrio Suryono (41), yang membeli Wuling Aira varian tertinggi di GIIAS 2026, mengatakan dirinya memilih mobil listrik baru karena belum yakin dengan kondisi mobil listrik bekas. Menurut dia, teknologi kendaraan listrik di Indonesia masih relatif baru sehingga membeli unit baru terasa lebih meyakinkan. "Karena ini EV dan kayaknya ini baru ya di apalagi di Indonesia gitu ya, baru berjalan berapa tahun ke belakang," katanya. "Jadi karena baru, jadi saya lebih memilih beli baru sih karena bekas saya belum tahu kayak gimana-gimananya. Jadi kayaknya lebih baik baru deh. Jadi lebih paham gitu," ujar Satrio. Sementara itu, pengunjung lain, Ken, mengatakan dirinya hanya akan membeli mobil listrik apabila benar-benar memberikan keuntungan untuk penggunaan jangka panjang. Ia juga mengaku selalu mempelajari rekam jejak suatu produk sebelum memutuskan membeli. "Tertarik jika worth it. Iya kalau buat jangka panjang," ujarnya. Mobil Baru Lebih Untung Berbeda dengan Ari (44), yang memutuskan membeli Mitsubishi X-Force Hybrid di GIIAS 2026. Wuling Aira EV resmi meluncur dengan harga mulai Rp 155 juta. Menurut dia, biaya perawatan mobil baru lebih mudah diprediksi dibandingkan membeli mobil bekas, terutama jika membeli kendaraan dari perorangan. "Karena biaya perawatannya lebih murah. Kalau kita beli seken kan kalau yang tepercaya sih enggak salah ya," katanya. "Cuma kalau kita beli langsung ke pribadi orang itu biasanya butuh tambahan paling tidak Rp 20 juta gitu. Sama aja hitungannya lebih irit beli mobil baru karena kan kita tinggal pakai aja, dia lebih tapi tergantung bujet ya, bicara masih bujet aja," katanya. Ari mengaku sejak awal memang mengincar mobil hybrid karena dinilai lebih hemat bahan bakar sekaligus memiliki reputasi yang baik. "Emang saya dari rumah tuh sudah mengincar hybrid. Lebih irit. Ketangguhannya. Termasuk Rifat Sungkar kan ya, jadi tepercaya pebalap kan," katanya. Rasional Beragam alasan yang disampaikan para pengunjung menunjukkan bahwa keputusan membeli mobil baru pada 2026 tidak lagi semata-mata didorong keinginan memiliki kendaraan terbaru. Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, calon konsumen semakin rasional dalam mengambil keputusan. Calon konsumen mengutamakan efisiensi biaya operasional, kemudahan perawatan, kebutuhan keluarga maupun pekerjaan, serta mempertimbangkan nilai kendaraan untuk penggunaan jangka panjang. Toyota Hilux BEV di GIIAS 2026 Dengan pertimbangan tersebut, mobil baru tetap dipandang sebagai investasi yang layak, selama pembeliannya disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing.