Masalah kemacetan di Indonesia, terutama saat ada perbaikan jalan atau penyempitan lajur (bottleneck), seolah tidak pernah usai. Namun, biang kerok dari kekacauan tersebut dinilai bukan hanya karena faktor infrastruktur, melainkan minimnya etika dan empati dari para pengguna jalan. Mirisnya, perilaku buruk di jalan raya ini justru sering kali diperlihatkan oleh oknum penegak hukum maupun pejabat negara yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat sipil. Tangkapan layar dari video mobil Lexus berplat RI 25 menyerobot antrean di gerbang Tol Cilandak. Founder dan Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, mengatakan bahwa oknum pejabat yang justru meminta eksklusifitas saat berada di jalan raya dengan menggunakan simbol-simbol instansi tertentu. "Pengguna jalan di Indonesia ini jangan selalu dipukul adalah masyarakat sipil. Justru kadang-kadang penegak hukum dan para aparat negara yang memberi contoh buruk, yang minta eksklusif," ujar Jusri kepada Kompas.com Selasa (21/4/2026). Jusri menekankan, secara etika, para pejabat tersebut adalah orang-orang yang dibayar oleh pajak masyarakat. Seharusnya, mereka memberikan prioritas dan pelayanan kepada masyarakat sipil, bukan malah sebaliknya. Mobil dinas terparkir di halaman Galeri atau Bale Indung Nyi Pager Asih, Karawang, Jawa Barat, Kamis (2/4/2026). "Mereka mentang-mentang berada di bawah instansi tertentu, dengan simbol-simbolnya, mereka minta eksklusifitas. Akhirnya, metode pengurai kemacetan seperti zipper method (metode resleting) tidak berlaku karena tidak ada yang mau mengalah," kata Jusri. Menurut Jusri, perilaku ini berdampak sistemik. Mengingat budaya masyarakat Indonesia yang cenderung meniru (duplikasi), perilaku egois para pemimpin di jalan raya menjadi pembelajaran yang salah bagi masyarakat luas. "Habit kita ini duplikasi. Sudah kesadaran rendah, melihat itu (perilaku pejabat) adalah pembelajaran yang paling efektif bagi kita sebagai peniru. Makanya tidak ada yang mau mengalah. Etika dan empati seolah bukan budaya kita lagi di jalan raya," ucapnya. Lebih lanjut, Jusri menilai bahwa karakter asli seseorang bisa terlihat jelas dari caranya berperilaku di jalan raya. Orang yang tidak tertib, tidak sabar, hingga hobi menyerobot jalur orang lain merupakan cerminan karakter sehari-hari, termasuk potensi perilaku koruptif. "Kalau kita mau lihat bangsa, lihat saja cara mereka berada di jalan raya. Karakter itu sudah terlihat. Orang tidak tertib, koruptor, yang minta perhatian, semuanya dicerminkan dari tata cara kita berlaku di jalan raya," tutur Jusri. Ia juga menyoroti penggunaan lampu strobo dan sirine pada kendaraan pribadi atau kendaraan yang tidak sesuai peruntukannya sebagai bentuk perilaku "kampungan" yang merusak tatanan ketertiban umum. "Cerminannya mereka sehari-hari ya itu. Meskipun dia bilang supir yang bawa, kalau dia biarkan atau tidak melarang, berarti dia juga begitu. Ini yang menjadi pangkal dari kekacauan di jalan raya kita," kata Jusri. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang