Mengemudi dalam kondisi mengantuk masih sering dianggap sebagai hal yang bisa diatasi dengan cara sederhana, seperti minum kopi, merokok, mengobrol, atau membuka kaca jendela. Padahal, rasa kantuk saat berada di balik kemudi bisa menjadi kondisi yang sangat berbahaya. Pengemudi dapat kehilangan kemampuan untuk membaca situasi lalu lintas dan merespons kondisi di sekitarnya. Hal ini kembali menjadi perhatian setelah terjadi kecelakaan maut di Tol Jombang-Mojokerto (Jomo), Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Kecelakaan yang terjadi di KM 687+200 jalur B tersebut melibatkan Toyota Hiace dengan truk bermuatan gipsum. Sebanyak 11 orang menjadi korban, dengan empat orang meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka. Kanit 3 PJR Polda Jatim AKP Sudirman mengatakan, kecelakaan bermula ketika Toyota Hiace bernomor polisi H 7497 OQ melaju dari arah Surabaya menuju Surakarta dengan membawa 11 orang, termasuk pengemudi. “Sesampai di KM 687+200 jalur B Ruas Tol Jomo, diduga pengemudi mengantuk sehingga kendaraan oleng ke kiri,” ujar Sudirman, mengutip , Senin (14/9/2026). Hiace tersebut kemudian menabrak bagian belakang truk bermuatan gipsum bernomor polisi R 8187 OT yang melaju searah di depannya. Empat penumpang Hiace meninggal dunia di lokasi akibat benturan keras. Ilustrasi mengantuk saat mengemudi. Mengantuk Setengah Sadar Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, faktor pengemudi masih menjadi salah satu penyebab besar kecelakaan di jalan raya. Menurut dia, mengemudi dalam kondisi mengantuk membuat kemampuan pengemudi untuk mengendalikan kendaraan dan membaca situasi lalu lintas menurun. “Menyetir sambil mengantuk sudah jelas bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Mengantuk bisa membuat pengemudi berada di posisi setengah sadar,” kata Sony. “Artinya, mata tidak bisa membaca lalu lintas dengan benar dan otak sudah tidak dapat merespons situasi lingkungan,” ucap dia. Kondisi tersebut tentu berbahaya ketika pengemudi sedang melaju di jalan tol. Kecepatan kendaraan relatif tinggi, sementara jarak untuk melakukan pengereman atau menghindari kendaraan di depan semakin terbatas. Sony menjelaskan, ketika pengemudi sudah mengantuk, sebagian pikirannya berada dalam kondisi seperti alam bawah sadar. Akibatnya, pengemudi bisa tetap memegang kemudi dan menjalankan mobil, tetapi sebenarnya tidak lagi mampu mengontrol kendaraan dengan baik. “Perilakunya loss, ketika mengemudi ya hanya lurus tanpa kontrol dan berhenti ketika sudah menabrak objek di depan atau samping kiri kanannya,” ujar Sony. Ilustrasi mengantuk. Jangan Anggap Sepele Rasa Kantuk Menurut Sony, rasa mengantuk sebenarnya merupakan kondisi yang bisa dirasakan oleh pengemudi. Masalahnya, pengemudi kerap memilih untuk terus melanjutkan perjalanan karena merasa sudah tanggung, ingin segera sampai tujuan, atau menganggap rasa kantuk masih bisa dilawan. Padahal, ketika kemampuan otak sudah menurun, berbagai cara seperti merokok, mengobrol, minum kopi, hingga bernyanyi tidak bisa dijadikan jaminan pengemudi kembali memiliki konsentrasi penuh. “Tidak jarang juga yang bertindak menyiasati dengan merokok, ngobrol, minum kopi, bernyanyi dan sebagainya, padahal otak sudah lemah,” kata Sony. Kondisi ini menjadi semakin berisiko apabila pengemudi mengendarai kendaraan dalam perjalanan jauh atau pada malam hari. Bukan hanya kemampuan melihat yang menurun, tetapi respons terhadap kendaraan lain, perubahan arah, hambatan di jalan, hingga kebutuhan melakukan pengereman juga bisa terlambat. Cara yang Benar Saat Mulai Mengantuk Sony menegaskan, solusi ketika pengemudi mulai mengantuk bukan memaksakan diri untuk tetap berkendara. Pengemudi sebaiknya segera mencari tempat yang aman untuk menghentikan kendaraan. Setelah itu, pengemudi dapat beristirahat atau tidur sebelum kembali melanjutkan perjalanan. “Cara benar menyiasati kantuk adalah harus berhenti, tidur atau lakukan refresh merangsang otot, otak dan saraf,” ujar Sony. Artinya, jangan menunggu sampai mata benar-benar terpejam ketika mobil sudah berjalan. Jika mulai sulit mempertahankan mata tetap terbuka, sering menguap, sulit mengingat beberapa kilometer terakhir, atau mobil mulai keluar dari jalurnya, kondisi tersebut sudah menjadi tanda perjalanan perlu dihentikan. Untuk pengemudi mobil, fitur seperti cruise control, lane keeping assist, atau berbagai sistem bantuan pengemudi lainnya juga bukan alasan untuk terus berkendara ketika tubuh sudah mengantuk. Fitur keselamatan tersebut dirancang untuk membantu pengemudi, bukan menggantikan konsentrasi dan kontrol manusia. Jadi, ketika kantuk mulai datang saat mengemudi, pilihan paling aman bukan mencari cara untuk melawannya, melainkan menepi dan beristirahat. Lebih baik terlambat sampai tujuan daripada memaksakan perjalanan yang bisa membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain.