Kondisi lalu-lintas sebuah negara kerap dianggap hanya sebatas urusan jalan raya, kendaraan, dan aturan berkendara. Namun, lebih dari itu, lalu-lintas sebenarnya mencerminkan karakter, kedisiplinan, hingga tingkat peradaban suatu bangsa. Dalam webminar Road Safety Reflection 2025 & Action Agenda 2026, yang digagas Road Safety Association (RSA), Kalemdilat Polri, Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana mengatakan, lalu lintas memiliki peran besar dalam menopang kehidupan masyarakat. Arus lalu lintas di ruas jalan tol Jakarta - Cikampek, Selasa (23/12/2025) siang. "Maka pada konteks ini, lalu lintas sebagai urat nadi dituntutkan selamat, tertib, dan lancar agar bisa mendukung aktivitas yang menghasilkan produksi agar warga masyarakat ini bisa bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang," katanya, Selasa (23/12/2025). Apa yang ditunjukkan pengguna jalan sehari-hari, mulai dari cara berkendara, kepatuhan terhadap rambu, hingga kesabaran saat menghadapi macet, pada dasarnya merupakan gambaran budaya kolektif masyarakat. Jika warganya terbiasa tertib, saling menghormati, dan mematuhi aturan, maka lalu lintas pun akan lebih teratur. "Yang selanjutnya, lalu lintas juga merupakan suatu refleksi budaya bangsa. Kualitas literasi ini terefleksi pada perilaku di dalam berlalu lintas," ujar Chryshnanda. Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Puncak Bogor, Jawa Barat, Minggu (16/11/2025). "Maka kesadaran patuh hukum, tertib, ini akan mendukung bagaimana lalu lintas yang aman, selamat, tertib, dan lancar," katanya. Chryshnanda menyebut masalah lalu lintas memiliki “biaya sosial” yang besar. "Kita semua tahu bahwa masalah-masalah lalu lintas ini sosial cost-nya tinggi. Entah itu perlambatan, kemacetan, apalagi kecelakaan, dan juga masalah-masalah lainnya yang juga berimbas karena suatu pelanggaran," ujarnya. Kemacetan membuat waktu produktif terbuang, angka kecelakaan menimbulkan korban jiwa maupun kerugian ekonomi, sementara pelanggaran yang terjadi berulang-ulang dapat menggerus kepercayaan publik terhadap penegakan hukum. Lantaran itu, kesadaran kolektif menjadi kunci. Tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi membangun budaya tertib sejak dini melalui edukasi, keteladanan, dan kebiasaan sehari-hari. Seorang pengendara motor nekat masuk ke dalam jalur tol Di era sekarang, lanjutnya, perkembangan lalu lintas juga mencerminkan seberapa modern sebuah negara. Pemanfaatan teknologi seperti sistem pengawasan elektronik, pengelolaan lalu lintas berbasis data, hingga edukasi digital menjadi bagian penting untuk menciptakan lalu lintas yang aman dan efisien. "Pada konteks ini tentu lalu lintas juga bisa dilihat dari kualitas atau tingkat modernitasnya, yaitu bagaimana di dalam mewujudkan keamanan, keselamatan, tertib, dan lancaran di dalam berlalu lintas adalah perlu menggunakan pengetahuan atau dengan teknologi yang bisa mendukung," katanya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang