Di balik hasil yang diraih Astra Honda Racing Team (AHRT) pada seri pembuka Asia Road Racing Championship (ARRC) 2026, ada proses yang tak terlihat di lintasan: bagaimana tim menerjemahkan data dan 'suara' pebalap menjadi performa. Bagi tim, kecepatan motor bukan sekadar soal angka di telemetry. Ada proses dua arah yang berjalan, antara data teknis dan rasa yang dirasakan langsung oleh pebalap di atas motor. Manager Motorsport AHM, Johanes Lucky, menegaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi fondasi dalam pengembangan performa tim. “Yang pertama memang mendengarkan dari rider. Apa yang dibutuhkan, apa keluhan yang dihadapi, itu jadi dasar untuk kita improve,” ujar Lucky. Dalam praktiknya, setiap sesi di lintasan menghasilkan lapisan data yang kompleks. Mulai dari performa di tikungan, akselerasi di trek lurus, hingga respons motor dalam kondisi tertentu. Namun, angka-angka itu tidak selalu bisa berdiri sendiri. Di titik inilah peran pebalap menjadi krusial. Apa yang mereka rasakan, mulai dari grip ban, stabilitas saat pengereman, hingga kepercayaan diri saat masuk tikungan, menjadi “data kualitatif” yang melengkapi telemetry. AHRT padukan data telemetry dan masukan rider untuk optimalkan performa, jadi kunci bersaing ketat di ARRC 2026 sepanjang musim. Lucky menyebut, kombinasi antara data historis dan masukan pebalap menjadi kunci untuk menemukan setelan yang paling ideal. “Data-data yang sudah kita punya juga kita pakai sebagai referensi, lalu disesuaikan dengan kebutuhan rider supaya mereka bisa perform,” katanya. Pendekatan ini juga menjelaskan mengapa satu motor tidak bisa diperlakukan sama untuk semua pebalap, bahkan dalam satu tim yang sama. Setiap rider datang dengan karakter berbeda, gaya pengereman, cara membuka gas, hingga preferensi terhadap respons motor. Hal ini membuat proses setting menjadi sangat personal. “Setiap rider punya karakter sendiri, jadi kita lihat dari data, bagian mana yang harus di-improve supaya target waktunya bisa tercapai,” ucap Lucky. Di level kompetisi seperti ARRC, selisih waktu yang menentukan posisi sering kali hanya dalam hitungan sepersekian detik. Karena itu, kemampuan tim membaca detail kecil, baik dari data maupun dari pebalap, menjadi pembeda. Lebih jauh, pendekatan ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang tim. Data yang dikumpulkan tidak hanya digunakan untuk satu balapan, tetapi menjadi basis pengembangan berkelanjutan sepanjang musim. Artinya, setiap lap di Sepang bukan sekadar upaya mengejar podium, tetapi juga investasi informasi untuk menghadapi seri berikutnya dengan lebih siap. Dengan cara kerja seperti ini, performa tim bukan hanya soal siapa yang paling cepat di lintasan, tetapi siapa yang paling cepat belajar. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang