Industri otomotif nasional kembali dihadapkan pada tantangan pelik. Selain persoalan krisis cip semikonduktor yang perlahan mulai terurai, kini dinamika logistik global dan kelangkaan material plastik teknis mulai membayangi kelancaran produksi di pabrikan. Krisis plastik global, yang dipicu oleh kenaikan harga bahan baku petrokimia serta hambatan distribusi, menjadi isu krusial. Pasalnya, hampir setiap sudut mobil modern, mulai dari dasbor, panel pintu, hingga komponen mekanis di ruang mesin, bergantung pada material plastik berkualitas tinggi. Menanggapi situasi tersebut, PT Honda Prospect Motor (HPM) mengaku tengah memasang mode waspada. Pabrikan berlogo huruf 'H' ini terus memantau pergerakan rantai pasok global agar aktivitas di pabrik Karawang, Jawa Barat, tetap terjaga. Ilustrasi Pabrik Honda Yusak Billy, Sales & Marketing and After Sales Operations Director PT HPM, mengatakan, pihaknya terus memonitor kondisi global untuk menyesuaikan langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga kelancaran operasional Honda. "Dalam beberapa waktu terakhir, memang terjadi dinamika pada proses dan biaya logistik di sejumlah area yang menjadi bagian dari rantai pasok industri otomotif secara global," ujar Billy, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Masalah utama yang muncul bukan sekadar kelangkaan material, melainkan melonjaknya biaya kargo laut dan ketidakpastian jadwal pengiriman komponen impor. Jika bahan baku untuk komponen plastik terhambat, otomatis perakitan unit di lini produksi bisa terganggu. PT Honda Prospect Motor (HPM) merayakan 20 tahun berdirinya pabrik Honda di Indonesia Billy menambahkan bahwa saat ini Honda berupaya melakukan mitigasi agar konsumen tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan unit yang dipesan. "Kondisi ini masih dalam pengelolaan kami saat ini, di mana kami melakukan evaluasi terhadap perencanaan pasokan untuk beberapa model serta terus melakukan penyesuaian untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar," kata Billy. Ilustrasi pabrik Honda Civic Meski demikian, Billy tidak menutup mata bahwa jika tensi ketidakpastian logistik dan krisis bahan baku ini terus berlanjut, bakal ada dampak yang dirasakan langsung oleh konsumen di tingkat ritel. "Dalam kondisi tertentu, jika dinamika ini berlanjut, terdapat kemungkinan adanya penyesuaian pada distribusi kendaraan ke diler kami," ujarnya. Isu krisis plastik ini juga memicu kekhawatiran akan koreksi harga kendaraan di masa mendatang. Komponen plastik yang lebih mahal akibat langkanya polimer tertentu dapat mengerek biaya produksi per unit. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang