Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti perilaku pengemudi dan mekanik kendaraan niaga bus dan truk di Indonesia yang merasa sok tahu atau sok pintar. Tak jarang, minimnya pengetahuan soal kendaraan, membuat perawatan atau pengoperasian kendaraan menjadi tak sesuai standar pabrikan, hingga sebabkan kecelakaan."Mekanik dan pengemudi kita itu sok pintar, merasa sudah pandai, merasa sudah pengalaman. Padahal, kalau ada mekanik yang (ngaku) hafal workshop manual, oh saya jadi curiga. Karena orang pabrikan sendiri nggak mungkin hafal," buka Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan di GIICOMVEC 2026, JIExpo, Kemayoran, Jakarta beberapa waktu lalu. Menurut Wildan, mekanik yang benar-benar paham mengenai kendaraan niaga, pasti akan selalu membuka buku manual ketika mengerjakan sesuatu. Sebab dari pabrikan mendesain agar buku manual tidak mudah dihafal. "Untuk mengerjakan sesuatu, harus membuka workshop manual, itu memang didesain nggak mungkin hafal," katanya.Ditambahkan Wildan, sikap merasa tahu pengemudi dan mekanik Indonesia ini antara lain disebabkan oleh jarangnya sekolah mengemudi khusus bus dan truk. Karena itu, sangat banyak pengemudi dan mekanik kendaraan niaga di Indonesia yang tak tahu apa-apa, bahkan sekadar pengoperasian rem."Kemarin saya diundang oleh sebuah perusahaan besar di Indonesia. Armadanya ribuan, pengemudinya ribuan. Saya diminta menyeleksi 120 pengemudi terbaik, kemudian akan dipilih lagi 20 orang, yang akan dikirim ke Jepang untuk sekolah di sana. Apa yang saya peroleh? Ketika saya wawancara 20 orang itu hampir nggak ada yang paham sistem rem. Apalagi saya bicara sistem engine, sistem rem aja nggak bisa bedain mereka. Apa itu full hidrolik brake? Apa itu air over hidrolik brake? Full air brake? Lalu bagaimana cara kerjanya? Mereka nggak paham. Ini jadi bingung saya," terang Wildan.Maka itu Wildan berharap agar para operator bus maupun truk menyekolahkan para driver dan mekaniknya. "Jadi teman-teman operator, ayo kita sekolahkan. Jangan kira, sekolah itu untuk mengejar sertifikat. Sekolah itu mengejar dua hal, satu armadanya nanti selamat, kedua tidak terjadi pemborosan dalam proses bisnisnya," kata Wildan.Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan Foto: Luthfi Anshori/detikOto