Kia akan memanfaatkan fasilitas produksi milik Hyundai yang berada di Greenland International Industrial Center, Cikarang, Jawa Barat, sebagai bagian dari strategi percepatan penetrasi pasar setelah kembali dikelola langsung oleh prinsipal di Indonesia. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses lokalisasi produk di pasar otomotif nasional, sekaligus turut menambah daya saingnya. Chief Executive Operation Kia Sales Indonesia, Jong Sung Park, mengatakan bahwa fasilitas produksi Hyundai memiliki peran strategis dalam mendukung rencana jangka menengah Kia di Tanah Air. Hyundai Discovery Trip, kunjungan ke pabrik Hyundai Indonesia “Ya, kami akan menggunakan pabrik Hyundai. Fasilitas tersebut sangat berguna bagi kami,” ujar Park di Jakarta, Selasa (14/1/2026). Park menjelaskan, terdapat dua model MPV yang akan diproduksi di pabrik tersebut. Model pertama adalah MPV bertenaga listrik murni atau battery electric vehicle (BEV), yang dijadwalkan mulai pada akhir 2026 dan dipasarkan awal 2027. Selain itu, Kia juga menyiapkan satu model MPV 7-penumpang bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) sebagai model kedua. “Sejauh ini, kami memiliki dua model MPV yang akan diproduksi di pabrik Hyundai. Pertama MPV EV, kemudian MPV 7-seater dengan mesin konvensional,” kata Park. Pemanfaatan fasilitas Hyundai dimungkinkan karena Kia dan Hyundai berada dalam satu grup industri otomotif global, Hyundai Motor Group. Dalam struktur tersebut, Kia beroperasi sebagai merek independen, namun berbagi teknologi, platform, serta infrastruktur manufaktur dengan Hyundai di sejumlah negara, termasuk Thailand dan Malaysia. Managing Director Kia Sales Indonesia, Bayu Riyanto, mengatakan bahwa salah satu dari dua model MPV tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar Indonesia. Model tersebut diarahkan untuk menjawab karakter konsumen Tanah Air yang menyukai kendaraan keluarga berkapasitas tujuh penumpang. Bayu menambahkan, model yang dikembangkan untuk pasar domestik juga memiliki peluang untuk diekspor ke negara lain di masa mendatang. “Kami masih mengkalkulasi dan melihat perkembangan pasar. Untuk sekarang masih bersifat rahasia. Yang pasti MPV elektrik lebih dulu, lalu disusul MPV konvensional,” kata Bayu. Dengan perakitan di dalam negeri, Kia berpeluang menghadirkan produk dengan harga yang lebih kompetitif, khususnya di segmen kendaraan listrik, seiring meningkatnya persaingan di pasar domestik. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang