Indonesia berpeluang menghemat lebih dari 100 miliar liter bensin dan menekan 170 juta ton emisi karbon pada 2040, jika adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dipercepat. Temuan itu diungkap dalam laporan Rocky Mountain Institute (RMI) bertajuk “Transforming Indonesia’s Transportation,” pada Kamis (13/11/2025). Laporan tersebut menilai bahwa percepatan elektrifikasi roda dua dan empat dapat menjadi langkah krusial untuk mengurangi polusi udara sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Ilustrasi mobil listrik. cita itu baru bisa tercapai apabila Indonesia dapat mencapai 100 persen pangsa pasar EV roda dua dan 75 persen roda empat pada 2040. Sehingga dibutuhkan pengembangan infrastruktur EV, kebijakan, dan pembiayaan terpadu. “Dengan kepemimpinan yang berani dan aksi terkoordinasi, Indonesia berpeluang menjadi pemimpin regional dalam revolusi mobilitas listrik Asia Tenggara,” tulis laporan itu. Tak hanya menekan emisi, transisi ini juga berpotensi menciptakan 500.000 lapangan kerja baru seiring tumbuhnya rantai pasok kendaraan listrik di dalam negeri. Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persen Meski demikian, RMI menilai tantangan menuju era EV masih ada, mulai dari harga kendaraan, minimnya infrastruktur pengisian daya, hingga rendahnya kesadaran publik. Oleh karena itu, laporan ini menekankan empat pilar kunci percepatan, yaitu kebijakan yang jelas, pembiayaan yang terjangkau, adopsi teknologi, serta keterlibatan korporasi dan konsumen. Jakarta menjadi contoh mendesak perubahan. Sektor transportasi di ibu kota menyumbang sekitar 143.000 ton polusi udara setiap tahun, memicu lebih dari 10.000 kematian dini dan kerugian ekonomi mencapai Rp 49 triliun per tahun. “Transisi menyeluruh dan cepat ke kendaraan listrik penting untuk melindungi perekonomian sekaligus kesehatan masyarakat Indonesia,” tulis RMI. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.