Saya selalu percaya, cara paling jujur mengenal sebuah mobil adalah membawanya pergi jauh. Bukan sekadar keliling kota, melainkan benar-benar diajak bekerja keras. Itulah yang saya lakukan bersama Jaecoo J8 SHS Ardis dalam perjalanan pulang-pergi Jakarta–Yogyakarta–Jakarta sejauh 1.229 km. Dari desain, fitur, rasa berkendara, sampai hitung-hitungan biaya kepemilikan, semuanya saya rasakan langsung. Test drive Jaecoo J8 SHS Ardis Desain: Elegan, Gagah, dan Tidak Berlebihan Pertama kali melihatnya, saya langsung menangkap aura elegan sekaligus berwibawa. Dimensinya besar namun tetap terasa proporsional, dengan panjang 4.820 mm, lebar 1.930 mm, tinggi 1.710 mm, dan wheelbase 2.820 mm. Kalau disejajarkan dengan Hyundai Palisade memang sedikit lebih ringkas, tetapi dibanding Mitsubishi Outlander PHEV, J8 justru lebih panjang dan terlihat lebih berisi. Test drive Jaecoo J8 SHS Ardis Grille model waterfall berukuran besar memberi kesan gagah sejak pandangan pertama. Lampu utama ramping dan tajam, menyatu dengan garis bodi yang sederhana namun tegas. Dari samping, siluetnya padat dan sleek, tidak banyak ornamen berlebihan. Detail seperti gagang pintu pop-up dan pilar hitam yang menciptakan efek floating roof membuat tampilannya modern tanpa terasa norak. Masuk ke kabin, nuansa coklat muda menyerupai warna kacang langsung menghadirkan kesan hangat. Test drive Jaecoo J8 SHS Ardis Material soft touch di dasbor dan trim pintu memperkuat aura premium. Jok lebar dengan pengaturan elektrik di trim pintu memberi sentuhan ala mobil Eropa. Layar cluster dan infotainment menyatu dalam satu panel besar yang clean dan modern. Di baris kedua, ruang kaki lega, bahkan untuk penumpang dengan tinggi 180 cm. Panoramic roof membuat kabin terasa lebih terang dan lapang. Test drive Jaecoo J8 SHS Ardis Fitur dan Teknologi: Bukan Sekadar Banyak, Tapi Relevan Yogyakarta PP menjadi ajang pembuktian fitur. Kursi elektrik 12 arah, setir tilt dan telescopic elektrik, ventilated seat, heated seat, hingga fitur pijat benar-benar terasa manfaatnya saat berkendara berjam-jam di tol Trans Jawa. Sistem audio 14 speaker dari Sony menghadirkan kualitas suara premium, bahkan ada speaker di headrest. Wireless charging 50 watt dengan ventilasi AC mencegah ponsel overheat saat navigasi aktif terus-menerus. Test drive Jaecoo J8 SHS Ardis Di balik kemudi, saya juga merasakan kerja sistem ADAS yang lengkap. Adaptive Cruise Control, Lane Keeping Assist, Blind Spot Detection, hingga Curve Speed Control bekerja halus membantu menjaga stabilitas. Total ada 19 fitur ADAS dan 10 airbag yang memberi rasa aman ekstra. Kamera 540 derajat sangat membantu saat parkir di rest area yang padat. Tampilan gagah Jaecoo J8 dengan desain premium hasil rancangan Chris Rhoades, eks-desainer Jaguar dan Land Rover. Rasa Berkendara: Halus, Kencang, dan Adaptif Di atas kertas, kombinasi mesin 1.500 cc turbo dan triple motor listriknya menghasilkan 530 Tk dan torsi 650 Nm. Tapi yang lebih penting, bagaimana rasanya? Begitu pedal gas disentuh, dorongan tenaga instan langsung terasa. Di mode Sport, akselerasinya seperti gelombang tanpa jeda, halus tapi sangat cepat. Tidak ada hentakan kasar saat mesin bensin mulai aktif. Transisinya nyaris tak terasa. Test drive Jaecoo J8 SHS Ardis Suspensi CDC (Continuous Damping Control) adaptif yang bisa menyesuaikan hingga 100 kali per detik benar-benar bekerja. Jalan beton sambungan, aspal bergelombang, semuanya diredam dengan baik. Meski bodinya besar, pengendaliannya tetap terprediksi dengan body roll minimal. Pilihan mode berkendara juga lengkap: Eco, Normal, Sport, Snow, Sand, hingga Offroad. Sistem penggeraknya punya 9 drive mode otomatis yang bisa mengatur kerja motor listrik dan mesin secara paralel sesuai kebutuhan beban jalan. Test drive Jaecoo J8 SHS Ardis Kehematan Nyata di Perjalanan Luar Kota Inilah bagian paling menarik. Dalam perjalanan total 1.229 km, saya hanya melakukan satu kali pengisian penuh BBM. Baterai berkapasitas 34,46 kWh mampu membawa mobil melaju mendekati klaim 180 km dalam mode EV murni. Di rute campuran tol dan jalan naik-turun, konsumsi daya tercatat sekitar 15–17 Wh per km. Konsumsi BBM bahkan sempat menyentuh 23,3 km per liter dengan angka kombinasi di kisaran 20,8 km per liter. Saat kembali ke Jakarta, tangki 70 liter masih menyisakan bahan bakar dengan estimasi jarak tempuh 351 km. Artinya, klaim total jarak lebih dari 1.400 km terasa masuk akal dalam penggunaan nyata. Test drive Jaecoo J8 SHS Ardis Biaya Kepemilikan 5 Tahun: Masih Masuk Akal? Soal biaya, mari kita hitung realistis. Pajak tahunan terdiri dari PKB Rp 13.419.000 dan SWDKLLJ Rp 143.000, total Rp 13.562.000 per tahun. Dalam lima tahun, pajak mencapai Rp 67.810.000. Adapun biaya servis berkala hingga 75.000 km selama lima tahun pertama totalnya Rp 15.334.286. Artinya, total biaya kepemilikan lima tahun (pajak + servis) mencapai Rp 83.144.286. Jika dirata-ratakan: - Per tahun: sekitar Rp 16.628.857- Per bulan: sekitar Rp 1.385.738 Angka tersebut belum termasuk BBM, listrik, dan asuransi. Namun dengan banderol Rp 699,9 juta (Februari 2026), biaya sekitar Rp 1,3 jutaan per bulan untuk pajak dan servis tergolong kompetitif di kelas SUV plug-in hybrid premium. Test drive Jaecoo J8 SHS Ardis Kesimpulan Bagi saya, Jaecoo J8 SHS Ardis bukan hanya soal angka besar di brosur. Ia menawarkan kombinasi desain elegan, fitur melimpah yang benar-benar terasa manfaatnya, performa kuat namun tetap halus, serta efisiensi nyata untuk perjalanan lintas kota. Yang paling penting, mobil ini memberi peace of mind. Nyaman, irit, aman, dan tidak terasa memberatkan dalam lima tahun pertama kepemilikan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang