Kenaikan harga bahan bakar diesel non-subsidi seperti Pertamina Dex dan Dexlite mulai dirasakan dampaknya oleh para pengguna mobil bermesin diesel di Indonesia. Sejumlah konsumen pun mulai melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari mengurangi penggunaan kendaraan hingga beralih ke opsi lain yang lebih hemat. Andre, pengguna Toyota Fortuner VRZ diesel tahun 2021 di Jakarta, mengaku kenaikan harga ini cukup terasa. Bahkan ia mulai mengurangi penggunaan mobil dieselnya untuk aktivitas harian. “Kurang lebih sama dengan harga per liter sama dengan satu harga paket ayam siap saji. Mulai agak berat ya, untungnya saya sudah prepare EV,” ujar Andre, kepada Kompas.com, Minggu (19/4/2026). Ia mengatakan, kini penggunaan mobil diesel hanya sesekali, sementara mobil listrik (Electric Vehicle/EV) menjadi andalan untuk kebutuhan sehari-hari. “Biasanya mobil dipakai sesuai tanggal plat mobil (genap), akan jarang digunakan sekarang. Lebih ke full EV dailynya. EV memang sengaja dibeli karena antisipasi hal seperti ini juga, selain sebagai genset berjalan apabila ada apa-apa,” kata dia. Harga BBM hari ini kembali menjadi sorotan setelah terjadi penyesuaian signifikan pada BBM nonsubsidi. PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Berbeda dengan Andre, Nisa, pengguna Mitsubishi Pajero Dakar 2026 di Surabaya, menilai kenaikan harga tersebut masih dalam batas wajar. “Menurut saya normal saja, karena kan minyak dunia lagi naik. Kalau dari awal memutuskan pakai Dex artinya sudah siap dengan dana yang dikeluarkan berapa pun nominalnya, karena kenyamanan itu ada harganya,” ujar Nisa. Ia juga menilai, kenaikan harga diesel non-subsidi cenderung tidak terlalu banyak menuai protes karena mayoritas penggunanya berasal dari kalangan menengah ke atas. “Menurut saya kenapa Dex naik duluan, soalnya pengguna dipastikan rata-rata menengah ke atas, paling sebagian kecil saja yang protes,” kata dia. Sementara itu, Zara, pengguna Toyota Fortuner VRZ diesel 2016 di Jakarta, mengaku mulai mempertimbangkan alternatif lain untuk menekan pengeluaran. mesin diesel mitsubishi pajero sport dakar “Sempat berpikir mau beli mobil listrik, tapi masih dipertimbangkan apakah benar butuh atau tidak. Jadi untuk mengakali, saya akan kombinasi dengan naik motor,” ujar Zara. Hal serupa juga dirasakan Indra, pengguna Pajero Dakar 2021 di Pekanbaru. Ia mengaku kaget dengan lonjakan harga yang cukup signifikan. “Jujur saya mendengar kabar ini kemarin shock. Terakhir saya isi Pertadex masih Rp 14.950, sekarang sudah jadi Rp 24.950, ini cukup buat isi dompet kaget,” ujar Indra. Menurut dia, kenaikan ini membuatnya berpikir ulang untuk menggunakan mobil diesel miliknya. “Saya sendiri jujur kandangkan Pajero saya di garasi, bakal ogah saya keluarin sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Saya beralih pakai mobil Fortuner tipe lama yang bisa minum biosolar saja supaya kantong lebih irit,” kata dia. Kenaikan harga bahan bakar minyak non subside untuk mobil diesel bukan sekadar soal angka di papan SPBU, tapi mulai mengubah cara orang memakai mobil diesel. Dari yang tadinya dipakai harian, kini mulai dibatasi, bahkan ada yang beralih ke kendaraan lain yang lebih hemat. Jika tren ini berlanjut, maka bukan tidak mungkin pola konsumsi BBM di segmen diesel juga ikut berubah. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang