Di tengah harga ban mobil baru yang tidak murah, ban bekas layak pakai masih menjadi alternatif bagi sebagian pemilik kendaraan. Berdasarkan pantauan Kompas.com di empat bengkel ban yang ada di Jakarta, tiga di antaranya masih menyediakan stok ban bekas untuk konsumen. Kondisi ban beragam. Ada ban dengan alur tapak yang masih cukup tebal dan usia relatif muda, tetapi ada pula yang sudah menunjukkan tanda pemakaian cukup panjang. Harga yang ditawarkan bisa jauh lebih murah dibandingkan ban baru dengan ukuran serupa. "Penentuan harga ban bekas itu dinilai dari ketebalan sisa alur tapak, kondisi dinding ban (sidewall), serta tahun produksinya," ujar salah seorang mekanik bengkel yang enggan disebutkan namanya kepada Kompas.com, Minggu (4/10/2026). Sebagai contoh, ban ukuran 175/65 R14 dengan kondisi alur tapak diklaim masih di atas 70 persen ditawarkan sekitar Rp 250.000 per buah. Sementara, dibandingkan harga ban baru dengan ukuran serupa, berada di kisaran Rp 500.000 hingga Rp 600.000 per buah, tergantung merek dan tipe. Artinya, konsumen bisa mendapatkan ban bekas dengan harga sekitar separuh dari ban baru. Pilihan ban bekas buat mobil Banyak Dicari Pengemudi Taksi Online Menariknya, menurut mekanik tersebut, salah satu kelompok konsumen yang cukup sering mencari ban bekas adalah pengemudi taksi online. Selain itu, ada pemilik mobil pribadi yang membelinya karena mengalami kondisi darurat, misalnya ban robek ketika sedang dalam perjalanan. "Kebanyakan yang cari ban bekas itu pengemudi taksi online atau pemilik mobil pribadi yang kena musibah ban robek di jalan dan butuh pengganti cepat," kata mekanik tersebut. Bagi kendaraan yang digunakan untuk mencari penghasilan setiap hari, harga ban menjadi salah satu komponen biaya operasional yang harus diperhitungkan. Ban bekas akhirnya menjadi alternatif ketika pengemudi membutuhkan penggantian cepat tetapi memiliki anggaran terbatas. Tips Pilih Ban Bekas Meski lebih murah, membeli ban bekas membutuhkan pemeriksaan lebih teliti dibandingkan membeli ban baru. Kembangan yang masih tebal tidak serta-merta menunjukkan keseluruhan kondisi ban masih baik. Mekanik menyarankan konsumen memperhatikan kode produksi yang tercantum pada dinding ban. Empat angka pada kode tersebut dapat digunakan untuk mengetahui minggu dan tahun produksi ban. "Saran dari kami paling utama cuma dua itu, lihat tahun kode produksinya sama pastikan alur kembangannya belum tipis," ujar mekanik. Selain ketebalan tapak dan usia produksi, kondisi fisik ban juga perlu diperiksa. Hindari ban yang memiliki retakan pada dinding samping, benjolan, sobekan, atau tanda kerusakan lainnya. Riwayat ban bekas juga tidak selalu diketahui konsumen. Ban dapat terlihat masih memiliki alur cukup tebal, tetapi sebelumnya pernah mengalami benturan keras, kekurangan tekanan udara dalam waktu lama, atau kerusakan lain yang tidak langsung terlihat dari permukaan. Karena itu, ban bekas sebaiknya tidak dipilih hanya berdasarkan harga dan ketebalan kembangan. Untuk penggunaan darurat, ban bekas dengan kondisi yang benar-benar diperiksa dapat menjadi alternatif sementara. Namun, untuk pemakaian jangka panjang, kondisi dan keamanan ban tetap harus menjadi pertimbangan utama sebelum mengejar selisih harga.