Lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran diperkirakan mempercepat peralihan ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di berbagai negara. Situasi tersebut sekaligus menjadi peluang bagi industri otomotif China untuk semakin memperkuat posisinya di pasar global. Dikutip dari South China Morning Post, Direktur Riset Transisi Energi Wood Mackenzie, David Brown, menilai gejolak di Selat Hormuz berpotensi menjadi titik balik bagi percepatan adopsi EV. Ilustrasi mobil listrik. Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak hingga sekitar 50 persen sepanjang bulan ini mendorong perubahan perilaku konsumen dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik. “Penutupan Selat Hormuz bisa menjadi game changer bagi kendaraan listrik,” ujar Brown, Selasa (24/3/2026). Pada perdagangan awal pekan, harga minyak mentah Brent telah menembus level 100 Dollar AS per barel dan masih berada dalam tekanan kenaikan. Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran apabila jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali dalam waktu 48 jam. Jelang Lebaran, Ratusan Kendaraan Antri Mengisi BBM di SPBU *** Local Caption *** Jelang Lebaran, Ratusan Kendaraan Antri Mengisi BBM di SPBU Menurut Brown, di negara yang memiliki akses terhadap EV dengan harga terjangkau, terutama buatan China, peralihan dari mobil berbahan bakar bensin akan berlangsung lebih cepat. Ia juga menyebut Brasil sebagai pasar luar negeri terbesar bagi produsen EV asal China, BYD. Pandangan serupa disampaikan Ekonom Asia di HSBC, Justin Feng. Ia menilai harga minyak yang tinggi dan fluktuatif membuat EV kian menarik sebagai solusi efisiensi biaya, terutama jika konflik berlangsung lebih lama. Ilustrasi mobil listrik. Hal ini diyakini akan mempercepat elektrifikasi transportasi darat, khususnya di kawasan Asia. Laporan lembaga think tank Ember mencatat, saat ini terdapat 39 negara dengan penjualan EV yang sudah melampaui 10 persen dari total pasar mobil. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan hanya empat negara pada 2019. Negara berkembang pun mulai mengejar, bahkan dalam beberapa kasus melampaui negara maju dalam adopsi kendaraan listrik. Di sisi lain, data terbaru menunjukkan produsen mobil asal Negeri Tirai Bambu mulai memimpin penjualan global pada 2025, mengakhiri dominasi Jepang yang telah berlangsung lebih dari dua dekade. Sejumlah pemain besar seperti BYD dan Geely dilaporkan melampaui penjualan merek Jepang seperti Nissan dan Honda. Dari 20 produsen mobil terbesar dunia, enam berasal dari China, sedangkan Jepang menyumbang lima merek. Kinerja ekspor kendaraan China juga menunjukkan tren positif. Sepanjang tahun lalu, total ekspor mencapai 8,32 juta unit atau tumbuh 30 persen secara tahunan. Untuk EV, volumenya mencapai 2,32 juta unit, naik 38 persen. Ilustrasi mobil di China. Pasar tujuan utamanya meliputi Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin, hingga Timur Tengah. Meski prospeknya menjanjikan, Feng mengingatkan, konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan energi yang masih dibutuhkan dalam proses produksi kendaraan listrik. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang