Pasar mobil mewah tak hanya bicara soal unit baru. Di segmen supercar, mobil pra-pemilikan justru punya pasar tersendiri, terutama bagi konsumen yang ingin masuk ke dunia Ferrari dengan opsi yang lebih variatif. Melihat potensi itu, diler resmi Ferrari di Indonesia, Ferrari Eurokars, memperkenalkan program Ferrari Approved. Program ini merupakan skema sertifikasi mobil bekas resmi dari pabrikan, yang memastikan setiap unit tetap memenuhi standar teknis dan kualitas Ferrari. Berbeda dengan jual-beli mobil bekas pada umumnya, setiap unit dalam program ini harus melalui hingga 201 titik pemeriksaan yang dilakukan teknisi khusus Ferrari. Pemeriksaan mencakup kondisi mesin, transmisi, sistem elektronik, hingga detail interior dan eksterior. Riwayat kendaraan juga diverifikasi untuk memastikan keaslian serta rekam jejak perawatannya. Mobil yang lolos inspeksi akan mendapatkan garansi resmi selama 12 bulan. Cakupan ini berlaku untuk kendaraan hingga usia 15 tahun atau jarak tempuh 120.000 km. Ferrari juga menyediakan opsi perpanjangan garansi, termasuk program POWER16 yang melindungi komponen utama seperti mesin dan girboks hingga usia 16 tahun. Untuk model hybrid, tersedia skema perlindungan baterai sesuai ketentuan usia kendaraan. Ferrari hadirkan program Approved, tawarkan supercar bekas bersertifikasi dengan garansi resmi dan inspeksi 201 titik. Selain itu, calon pembeli dapat menelusuri unit yang tersedia melalui platform digital resmi Ferrari. Konsumen juga tetap diberi ruang personalisasi lewat Ferrari Genuine Configurator, mulai dari pilihan detail eksterior, interior, hingga komponen serat karbon. Tantangan Pasar Di tengah peluncuran program tersebut, Nini Chiandra, General Manager PT Eurokars Prima Utama, Ferrari Indonesia, menilai kondisi pasar tahun ini masih penuh dinamika, terutama karena faktor eksternal seperti situasi ekonomi global dan geopolitik. “Kalau ditanya tantangan, sekarang mungkin bukan cuma Ferrari saja. Semua merek juga merasakan kondisi saat ini,” ujar Nini di Jakarta, Rabu (4/3/2026). Meski begitu, ia menilai segmen luxury relatif memiliki ketahanan tersendiri. Menurutnya, citra merek Ferrari yang sudah kuat menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas pasar. Soal performa penjualan tahun ini, Nini belum ingin berspekulasi. “Tahun ini kan kita baru mulai, belum sampai tiga bulan. Jadi masih terlalu awal untuk bicara angka. Tapi tentu harapan kita lebih baik dari tahun lalu,” katanya. Ia juga menyebut profil konsumen Ferrari di Indonesia semakin beragam. Tak lagi didominasi kolektor senior, kini mulai muncul pembeli dari kalangan yang lebih muda. “Sekarang sudah variatif, ada yang milenial, ada juga yang usia matang. Harapan kami, dari muda sampai berumur tetap Ferrari,” ucapnya. Untuk menghadapi situasi pasar yang belum sepenuhnya stabil, strategi yang dipilih terbilang sederhana: memperluas pendekatan ke calon pelanggan. “Kalau biasanya kita ketok 10 rumah, sekarang mungkin harus 100 rumah. Jangan pernah menyerah,” kata Nini. Sejauh ini, pasar terbesar Ferrari di Indonesia masih berasal dari Jakarta, meski pembeli datang dari berbagai daerah. Model hybrid disebut masih menjadi salah satu yang paling diminati. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang