Pengelolaan merek Kia yang kini berada di bawah prinsipal melalui Kia Sales Indonesia membuka ruang bagi strategi bisnis yang lebih efektif, termasuk memanfaatkan fasilitas manufaktur yang telah dimiliki Hyundai di dalam negeri. Langkah tersebut dimungkinkan karena Kia dan Hyundai berada dalam satu grup otomotif global, Hyundai Motor Group, yang mengelola beberapa merek dengan pendekatan berbeda untuk setiap pasar. Kendati begitu, Chief Executive Officer Kia Sales Indonesia, Jong Sung Park, menegaskan kedekatan struktural itu tidak menempatkan Kia di bawah Hyundai melainkan setara. Kia resmi memulai babak baru dalam perjalanannya di pasar dalam negeri usai melakukan peralihan kepemilikan dan pengelolaan merek dari PT Kreta Indo Artha (KIA) ke Kia Sales Indonesia pada Rabu (14/1/2025). “Hyundai dan Kia adalah saudara. Kami berada di posisi yang sama,” ujar Park di Jakarta, Rabu (14/1/2026). Struktur grup ini memberi ruang bagi pemanfaatan teknologi dan fasilitas produksi secara bersama, sementara pengembangan desain, karakter kendaraan, dan strategi pemasaran tetap dijalankan secara independen. Park menyebut pola tersebut sudah lama diterapkan di berbagai negara dan terbukti menciptakan persaingan yang sehat antarmerek dalam satu grup. Pengalaman itu ia temui saat menangani pasar di Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Afrika, dengan hasil yang berbeda di setiap kawasan. “Di Ekuador, Kia berada di posisi pertama, Toyota kedua, dan Hyundai ketiga. Di Afrika juga serupa, serta UEA. Sementara di Asia, Hyundai kerap berada di posisi pertama. Jadi kita bersaing,” kata Park. Contoh tersebut menunjukkan bahwa performa pasar tidak ditentukan oleh hubungan grup, melainkan oleh kecocokan produk dengan kebutuhan konsumen di masing-masing wilayah. Perbedaan filosofi dan konsep menjadi alasan Kia dan Hyundai tetap berjalan sebagai dua merek yang berdiri sendiri, meskipun berada dalam satu payung korporasi. Pendekatan inilah yang melatarbelakangi keputusan Kia memproduksi kendaraan di pabrik Hyundai di Cikarang, Jawa Barat, tanpa harus membangun fasilitas baru. “Kami menciptakan sinergi bersama. Itu sebabnya Kia hadir di sini menggunakan pabrik Hyundai,” ujar Park. Pemanfaatan fasilitas tersebut dinilai dapat menekan biaya produksi sekaligus mempermudah ketersediaan suku cadang dan layanan purnajual. Pengembangan platform kendaraan tetap dilakukan secara terpisah, sehingga produk Kia tidak akan diseragamkan dengan Hyundai walau ada beberapa yang mungkin memiliki kemiripan. Model sinergi ini berbeda dengan pola kemitraan merek yang telah lama dikenal di Indonesia, Toyota dan Daihatsu, yang cenderung berbagi pengembangan produk secara langsung dengan pemisahan karakter konsumen. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang