Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian industri otomotif nasional, termasuk dari Chery Group Indonesia. Di tengah kondisi pasar yang masih menantang, produsen otomotif mulai menghadapi tekanan biaya produksi dan impor yang semakin besar. Namun di tengah situasi tersebut, Chery Group Indonesia memastikan masih berupaya menjaga stabilitas harga jual produknya di pasar Indonesia. President Director Chery Group Indonesia, Zeng Shuo, mengatakan bahwa pihaknya saat ini masih menerapkan strategi wait and see sambil terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah yang belakangan mengalami fluktuasi cukup tajam. Menurutnya, kondisi kurs memang menjadi salah satu faktor penting dalam industri otomotif. Meski demikian, Chery saat ini belum memiliki rencana untuk menaikkan harga jual kendaraan dalam waktu dekat. “Kami masih terus memantau perkembangan situasi pasar dan fluktuasi nilai tukar rupiah. Saat ini kami masih berusaha keras mempertahankan harga jual yang ada,” ujar Zeng Shuo. Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi konsumen otomotif nasional, terutama di tengah tren naiknya biaya hidup dan melemahnya daya beli masyarakat. Sebab dalam beberapa tahun terakhir, perubahan nilai tukar rupiah hampir selalu berimbas pada penyesuaian harga kendaraan baru di Indonesia. Industri otomotif sendiri menjadi salah satu sektor yang cukup sensitif terhadap pergerakan kurs dolar AS. Penyebabnya karena sebagian besar komponen kendaraan, material produksi, hingga teknologi elektrifikasi masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis meningkat dan pada akhirnya berpotensi dibebankan ke harga jual kendaraan. Diler Chery di Karawaci, Tangerang. Persaingan Ketat Situasi ini menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi merek-merek yang sedang agresif memperluas pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Sebab selain harus menjaga margin bisnis, produsen juga perlu mempertahankan daya tarik harga agar tetap kompetitif di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Chery menjadi salah satu merek yang dalam dua tahun terakhir cukup agresif memperkuat bisnisnya di Indonesia. Mulai dari kendaraan internal combustion engine (ICE), hybrid, hingga mobil listrik murni terus diperluas untuk menjangkau berbagai segmen konsumen. Beberapa model seperti Chery Omoda E5, J6, hingga lini Tiggo Series menjadi tulang punggung pertumbuhan Chery di pasar nasional. Belum lagi kehadiran sub-brand baru seperti Lepas dan iCar yang mulai disiapkan untuk memperkuat penetrasi kendaraan elektrifikasi dan lifestyle vehicle di Indonesia. Karena itu, menjaga harga jual tetap stabil menjadi strategi penting bagi Chery untuk mempertahankan momentum pertumbuhan tersebut. Terlebih pasar otomotif Indonesia saat ini dinilai masih sangat sensitif terhadap harga. Chery J6T. Prioritaskan Konsumen “Konsumen tetap menjadi prioritas utama kami,” kata Zeng Shuo. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Chery saat ini masih mencoba menahan dampak pelemahan rupiah agar tidak langsung diteruskan kepada konsumen. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi menjaga kepercayaan pasar, terutama ketika persaingan industri otomotif nasional semakin agresif, khususnya di segmen kendaraan elektrifikasi. Namun demikian, Zeng Shuo juga tidak menutup kemungkinan situasi dapat berubah sewaktu-waktu. Sebab kondisi ekonomi global dan nilai tukar mata uang masih sangat dinamis. Jika tekanan kurs terus berlangsung dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin produsen otomotif pada akhirnya harus melakukan penyesuaian harga untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Apalagi sejumlah biaya lain seperti logistik global, bahan baku, dan distribusi juga ikut mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi ujian bagi industri otomotif nasional dalam mempercepat tingkat kandungan lokal atau TKDN. Semakin tinggi penggunaan komponen lokal, maka ketergantungan terhadap impor bisa ditekan sehingga dampak fluktuasi kurs dapat diminimalkan. Pemerintah sendiri sebelumnya terus mendorong investasi manufaktur otomotif dan baterai kendaraan listrik di Indonesia untuk memperkuat ekosistem industri nasional. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga basis produksi regional. Bagi konsumen, keputusan Chery untuk sementara tetap mempertahankan harga jual tentu menjadi kabar positif. Terlebih saat ini pasar kendaraan listrik dan hybrid di Indonesia mulai berkembang cepat dengan semakin banyak pilihan model dan rentang harga yang kompetitif. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, harga tetap menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian kendaraan. Karena itu, langkah menahan kenaikan harga bisa menjadi strategi penting untuk menjaga minat konsumen sekaligus mempertahankan pertumbuhan penjualan. Meski masih menerapkan strategi wait and see, pernyataan Chery menunjukkan bahwa persaingan industri otomotif saat ini bukan hanya soal produk dan teknologi, tetapi juga kemampuan menjaga harga tetap kompetitif di tengah tekanan ekonomi global yang terus berubah. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang