Cat ulang atau repaint pada mobil bekas bukan selalu pertanda buruk. Dalam banyak kasus, repaint dilakukan karena baret halus, tergores saat parkir, atau ingin menyegarkan tampilan. Namun, repaint juga bisa menjadi indikasi mobil pernah mengalami kecelakaan. Karena itu, calon pembeli perlu memahami perbedaannya agar tidak salah menilai kondisi unit yang akan dibeli. Suzuki Ertiga Pemilik jasa inspeksi kendaraan PT Inspector Indonesia Expert, Lukman Hakim, mengatakan salah satu cara yang paling efektif adalah dari melihat langsung. “Bisa dilihat dari tingkat ketebalan catnya," kata Hakim kepada Kompas.com, belum lama ini. Menurut Lukman, ketebalan mobil yang sudah cat ulang (repaint) hanya karena estetika, berada di kisaran 0,30 mm. Kalau sudah menggunakan dempul sedang, ketebalannya bertambah, jadi 0,50 mm sampai 1 mm. "Sedangkan dempul tebal bisa lebih dari 1 mm, bahkan alat pengukurnya bisa menunjukkan over limit (OL),” kata Lukman. Kenapa Penting? Poles bisa bikin cat mobil menjadi mengkilap tanpa coating. Secara umum, panel mobil yang masih orisinal dari pabrikan memiliki ketebalan cat tertentu. Jika hasil pengukuran menunjukkan angka jauh lebih tebal, bisa jadi panel tersebut pernah diperbaiki dan dilapisi dempul sebelum dicat ulang. Semakin tebal lapisan dempul, biasanya semakin besar kerusakan sebelumnya. Dempul tipis bisa jadi hanya untuk meratakan baret dalam. Pengecekan ketebalan cat mobil bekas penting dilakukan untuk memastikan kondisi bodi tetap orisinal dan bebas perbaikan tersembunyi. Namun jika sudah sangat tebal, besar kemungkinan pernah terjadi benturan cukup keras. Meski begitu, Lukman mengingatkan bahwa tidak ada satu angka baku yang berlaku untuk semua mobil. “Kalau saya membuat SOP ke tim, ketebalan cat normal itu bukan angka template yang bisa dijadikan patokan untuk semua panel di setiap mobil. Nilainya tentu berbeda-beda," ujarnya. "Mobil Jepang umumnya normal di angka 0,13 mm, ada yang sedikit di bawah atau di atas itu, tergantung merek dan modelnya. Sementara mobil Eropa dan China biasanya normalnya di bawah angka tersebut," katanya. Hakim mengatakan, untuk mengecek bodi mobil mesti pakai alat pengukur ketebalan cat atau coating thickness gauge yang mampu memberikan angka yang lebih presisi. Tidak bisa hanya dengan mengetuk panel menggunakan jari untuk mendengar perbedaan suara. Sebab itu hanya memberi gambaran kasar dan tidak bisa dijadikan acuan. "Untuk membaca ketebalan cat wajib menggunakan alat coating test, bukan sekadar diketok-ketok pakai feeling karena itu tidak akurat,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang