Pedagang showroom dan penjual mobil bekas rumahan ternyata memiliki cara bermain yang berbeda, terutama saat kondisi pasar mobil bekas mulai melambat seperti sekarang. Perbedaan paling terasa ada pada beban operasional dan standar keuntungan. Karena itu, showroom cenderung lebih berhati-hati saat membeli stok mobil diesel bekas dibanding pedagang rumahan. Singgih dari Willies Mobil di Depok, Jawa Barat, mengatakan showroom mobil bekas memilih bermain aman karena khawatir harga mobil turun. “Maksudnya, kami harus punya cadangan lebih. Karena kami juga tidak tahu ke depannya harga mobil akan turun lagi atau tidak," katanya ditemui di Depok, Jawa Barat, belum lama ini. Diler mobil bekas Willies Mobil di Kelapa Dua, Depok "Di showroom sebelah saja masih banyak unit yang ‘gantung’. Artinya, harga beli mereka berapa, sementara sekarang harga pasarannya sudah turun,” ujarnya. Menurut dia, kondisi tersebut membuat pedagang showroom tidak bisa sembarangan mengambil unit hanya demi mengejar stok. “Makanya sekarang lebih baik kami main aman,” kata dia. Singgih menjelaskan, pedagang showroom memiliki biaya operasional yang jauh lebih besar dibanding pedagang rumahan. Karena itu, strategi penjualan dan pengambilan keuntungan juga berbeda. “Pedagang showroom beda dengan pedagang rumahan. Kalau pedagang rumahan kan tidak punya biaya operasional besar," ujarnya. Showroom mobil bekas Hapsari Motor, di Kelapa Dua, Depok. "Sementara showroom rata-rata harus sewa tempat, bayar pegawai, dan kebutuhan lain. Rasanya tidak mungkin biaya operasional di bawah Rp 10 juta per bulan,” ujarnya. Menurut dia, pedagang rumahan masih bisa melepas mobil dengan margin tipis karena tidak terbebani biaya operasional besar setiap bulan. “Kalau pedagang rumahan untung Rp 3 juta mungkin sudah dilepas," kata Singgih. "Tapi kalau showroom ambil untung Rp 3 juta per unit, jual 10 unit pun operasional belum tentu tertutup. Jadi standar pengambilan keuntungan saya yakin memang berbeda,” katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang