JAKARTA, KOMPAS.com - Pelintasan kereta api tanpa palang pintu masih dapat ditemui di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menuntut pengendara untuk lebih waspada karena tidak ada penghalang fisik yang secara langsung mencegah kendaraan melintas ketika kereta api datang. Pada kondisi seperti ini, pengendara tidak bisa hanya mengandalkan palang pintu atau petugas sebagai tanda aman. Pengendara perlu memastikan sendiri bahwa jalur rel benar-benar kosong sebelum menyeberang. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, terdapat sejumlah kebiasaan yang dapat diterapkan pengendara saat melewati pelintasan tanpa palang pintu. Ia menceritakan pengalamannya saat berada di Amerika Serikat (AS), terutama ketika melewati perlintasan kereta api tanpa palang pintu. Ilustrasi pelintasan liar. Pelintasan kereta tanpa palang pintu di wilayah Kota Tangerang Selatan, Banten. "Khususnya di pelintasan tanpa palang pintu. Di sana ada kewajiban di pelintasan tanpa palang pintu," kata Jusri kepada Kompas.com, Senin (31/8/2026). "Adalah, satu, berhenti sebelum melintasi, kemudian menurunkan kaca. Walaupun kaca kita ini tidak gelap kita diwajibkan menurunkan kaca di samping kiri kanan," ujarnya. "Kemudian menoleh ke kanan, ke kiri. Kalau di sana kan kita nyetir ke kiri tuh. Kita pertama menoleh ke kiri, menoleh ke kanan. Ketika aman, baru bergerak," kata Jusri. Jadi jika diringkas ialah, berhenti sejenak, kemudian menurunkan kedua kaca pintu samping. Kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan sejenak, sampai memastikan aman, baru melintasi. Alasan Kaca Mesti Turun Jusri menjelaskan alasan mesti menurunkan kaca mobil meski kaca film tidak gelap dan masih bisa melihat ke luar dengan baik. Ilustrasi pelintasan kereta api. "Jadi, dengan kaca diturunkan, kita bisa mendeteksi adanya kereta api. Bukan hanya dari visibilitas, tapi dari audio, dari volume, dari suaranya," katanya. Konsep tiga langkah, yakni stop, look, dan listen. Juga merupakan acuan dasar ketika ingin menyeberang pelintasan kereta. Setop, berhenti sebelum mencapai rel. Jangan berhenti terlalu dekat dengan rel, sehingga masih memiliki ruang untuk melakukan pengamatan. Look atau lihat ke kedua arah rel. Pastikan tidak ada kereta yang sedang mendekat. Kemudian listen, dengarkan suara kereta. Kaca diturunkan, suara klakson, roda, atau deru kereta dapat lebih mudah terdengar. Penerapan Penerapan kebiasaan seperti di AS tidak berarti seluruh prosedurnya harus diterapkan secara mentah di Indonesia. Warga pengguna jalan menyeberangi rel kereta api di perlintasan sebidang yang ada di wilayah Daop 7 Madiun, Kamis (14/12/2023) Kondisi pelintasan di Indonesia sangat beragam. Ada pelintasan tanpa palang pintu yang memiliki pandangan terbuka, tetapi ada juga yang berada di kawasan padat penduduk dengan banyak bangunan atau pepohonan di sekitar rel. Karena itu, prinsip utamanya adalah memastikan sendiri bahwa tidak ada kereta sebelum melintas. Menurunkan kaca dapat menjadi langkah tambahan, terutama ketika jarak pandang terbatas atau suara kereta diperlukan untuk membantu memastikan kondisi sekitar. Namun, pengendara juga harus memperhatikan kondisi jalan. Jangan sampai berhenti mendadak di lokasi yang membahayakan pengguna jalan lain. Terpenting kata Jusri ialah jangan menganggap tidak terlihatnya kereta sebagai tanda bahwa rel aman.