Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong perluasan layanan Transjakarta sebagai bagian dari upaya mengurangi kemacetan di Ibu Kota. Meski tingkat konektivitas jaringan Transjakarta saat ini telah mencapai 92 persen, tingkat pemanfaatannya oleh masyarakat masih tergolong rendah, yakni baru sekitar 23,4 persen. Kondisi inilah yang mendorong Pemprov DKI untuk menambah rute baru, khususnya yang menghubungkan kawasan dengan mobilitas tinggi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti kondisi lalu lintas di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, yang kerap padat akibat bus Transjakarta parkir di pinggir jalan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya untuk meningkatkan penggunaan transportasi umum dengan membuka rute-rute Transjabodetabek baru. Salah satu rute yang tengah diusulkan adalah jalur dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Blok M, yang dinilai memiliki potensi besar karena menghubungkan simpul transportasi utama dengan pusat aktivitas dan kuliner di Jakarta Selatan. "Maka untuk itu, saya sudah sampaikan kepada Kepala Dinas Perhubungan, untuk Transjabodetabek kita akan buka rute-rute baru,” ujar Pramono, dilansir dari laman resmi Pemprov DKI (20/1/2026). Deretan bus transjakarta yang melintas di jalur khusus transjakarta terjebak kemacetan akibat unjuk rasa di Bundaran HI, akhir September 2004. Jalur khusus yang menghubungkan Blok M-Kota ini adalah koridor pertama transjakarta yang kini telah mencapai 13 koridor. “Tadi saya habis berbisik-bisik dengan Pak Dirjen, mudah-mudahan disetujui untuk dari Bandara ke Blok M," kata dia. Rute Bandara Soekarno-Hatta–Blok M diproyeksikan menjadi salah satu jalur favorit masyarakat, karena tingginya arus penumpang dari dan menuju bandara. Ditambah dengan peran Blok M sebagai pusat transit dan destinasi populer, membuat rute ini diyakini mampu menarik minat pengguna transportasi umum, baik warga Jakarta maupun pendatang. Suasana antrean panjang halte CSW dari arah Stasiun MRT ASEAN Headquarters pada Selasa (12/8/2025) sore. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan rute baru lainnya untuk mendukung mobilitas pekerja, yakni dari Cawang menuju kawasan industri Jababeka. Rute ini dirancang untuk melayani tingginya jumlah pekerja yang bermukim di Jakarta namun bekerja di kawasan industri tersebut. "Dari Cawang ke Jababeka. Kenapa itu dilakukan? Karena memang pekerja kita di Jababeka itu cukup tinggi dan kebutuhannya juga tinggi," ucap Pramono. Ilustrasi unit bus Transjakarta. Pramono menyebut saat ini pihaknya masih mematangkan rencana penambahan rute tersebut dengan berkoordinasi bersama Kementerian Perhubungan. Ia pun mengajak masyarakat untuk semakin memanfaatkan transportasi umum yang telah terintegrasi dengan baik agar dampak pengurangan kemacetan bisa dirasakan secara signifikan. "Saya inginnya kalau masyarakat kita sudah menggunakan katakanlah 30 persen secara terus-menerus, secara signifikan, itu pasti akan mengurangi kemacetan yang ada di Jakarta," kata Pramono. Melalui penambahan rute-rute strategis ini, Pemprov DKI Jakarta berharap Transjakarta tak hanya semakin terkoneksi, tetapi juga semakin relevan dengan kebutuhan mobilitas harian masyarakat Jabodetabek. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang