Mazda CX-60 menjadi salah satu SUV premium yang cukup menarik perhatian di Indonesia. Mengusung mesin besar 3.300 cc inline 6 dan desain yang elegan, mobil ini menawarkan kombinasi performa dan kemewahan dalam satu paket. Namun, seperti mobil pada umumnya, penggunaan harian tentu menghadirkan cerita tersendiri dari para pemiliknya. Salah satunya Jason, pengguna Mazda CX-60 Elite produksi 2023 yang mulai ia gunakan sejak 2025. Jason mengaku, pilihannya terhadap Mazda CX-60 bukan tanpa alasan. Sebelumnya, ia sudah menggunakan beberapa model Mazda seperti Mazda2 dan CX-30, sehingga sudah cukup familier dengan karakter merek asal Jepang tersebut. Interior Mazda CX-60 Sport. “Alasan utama upgrade ke CX-60 karena mesin 3.300 cc inline 6 yang ditawarkan. Selain itu, desain eksteriornya besar dan gagah, interiornya juga terasa sangat mewah dengan detail yang sebelumnya belum pernah ada di model Mazda lain,” ujar Jason kepada Kompas.com, belum lama ini. Menurut dia, Mazda CX-60 menawarkan nilai lebih karena mampu menghadirkan nuansa premium tanpa harus masuk ke segmen mobil mewah pada umumnya. “Dengan CX-60, saya bisa dapat kemewahan dan performa dengan harga yang lebih rendah dibanding mobil mewah lain, tapi tanpa label mobil mewah,” kata dia. Selama penggunaan, Jason merasakan sejumlah kelebihan yang cukup menonjol. Salah satunya adalah performa mesin yang dinilai sangat bertenaga namun tetap nyaman digunakan dalam berbagai kondisi. “Mesinnya powerful dan serbaguna. Dipakai santai nyaman, tapi kalau butuh tenaga besar juga sangat cukup. Suara mesin 3.300 cc-nya juga terasa sangat memuaskan saat putaran tinggi,” ucapnya. Selain itu, sisi kemewahan juga menjadi daya tarik tersendiri. Mazda CX-60 Pro Meski tidak terlihat mencolok dari luar, interior Mazda CX-60 justru memberikan kesan premium yang kerap mengejutkan penumpang. “Banyak teman yang kaget saat masuk ke dalam, karena interiornya terasa mewah walau dari luar tidak terlihat seperti mobil luxury,” ujar Jason. Dari sisi desain, ia juga menilai Mazda CX-60 memiliki karakter yang kuat sebagai mobil berorientasi pengemudi. “Desainnya gagah dengan bonnet panjang untuk menampung mesin besar. Posisi duduk pengemudi juga benar-benar di tengah, seperti mobil sport,” katanya. Meski demikian, Jason juga mengungkapkan beberapa kekurangan yang ia rasakan selama menggunakan mobil tersebut. Salah satunya terkait keseimbangan antara karakter mesin dan suspensi. “Menurut saya, tuning mesin lebih ke arah kenyamanan, tapi suspensinya justru terlalu keras. Jadi kurang seimbang. Tapi sepertinya Mazda sudah menyadari ini karena di model terbaru suspensinya sudah direvisi,” ucapnya. Selain itu, konsumsi bahan bakar juga menjadi catatan. Meski dinilai cukup efisien untuk ukuran mesin besar, frekuensi pengisian bahan bakar tetap tergolong tinggi. “Walaupun teknologi e-Skyactiv G cukup efisien dibanding mesin 3.000 cc ke atas lainnya, tetap saja cukup sering ke SPBU. Apalagi kalau sering tergoda injak pedal gas,” kata dia. Terakhir, aspek kenyamanan penumpang juga dinilai masih bisa ditingkatkan, terutama untuk baris kedua. “Ruang penumpang, khususnya baris kedua, terasa agak sempit. Seat dan legroom-nya kurang maksimal untuk ukuran mobil sebesar ini,” ujar Jason. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan tersebut, Mazda CX-60 tetap menjadi pilihan menarik di segmen SUV premium, khususnya bagi konsumen yang mengutamakan performa dan pengalaman berkendara, namun tetap ingin sentuhan kemewahan yang tidak terlalu mencolok. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang