Logo mobil Toyota Peringatan itu datang langsung dari CEO Toyota saat ini, Koji Sato, yang dalam waktu dekat akan melepas jabatannya. Dalam sebuah forum bersama para pemasok, Sato menegaskan bahwa kondisi industri otomotif global kini tidak sedang baik-baik saja. GULIR UNTUK LANJUT BACA “Jika tidak ada perubahan, kita tidak akan bertahan. Semua harus menyadari situasi krisis ini,” ujarnya dikutip VIVA Otomotif dari laman Torquecafe, Senin 30 Maret 2026.Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Meski secara angka Toyota masih terlihat perkasa dengan penjualan global mencapai lebih dari 11,3 juta unit pada tahun lalu tekanan dari berbagai sisi mulai terasa. Margin keuntungan yang menipis, gangguan produksi, hingga meningkatnya persaingan menjadi tantangan nyata.Sato juga menyoroti masalah klasik yang belum sepenuhnya selesai, yakni keterlambatan pengiriman mobil ke konsumen. Banyak pelanggan harus menunggu lama, yang sebagian besar disebabkan oleh kendala produksi dan kualitas, baik di internal Toyota maupun dari para pemasok.Menurutnya, peningkatan kualitas harus dimulai dari setiap lini proses produksi. Tanpa itu, upaya meningkatkan volume produksi hanya akan jadi mimpi.Di sisi lain, ancaman terbesar datang dari luar Jepang, khususnya dari industri otomotif China yang berkembang sangat agresif. Dalam beberapa tahun terakhir, merek-merek asal Negeri Tirai Bambu terus menunjukkan lonjakan, terutama di segmen kendaraan listrik.Kondisi ini membuat persaingan semakin panas. Bahkan Sato secara blak-blakan menyebut industri otomotif saat ini sedang “berjuang untuk bertahan hidup”.Tongkat estafet kepemimpinan Toyota sendiri akan segera berpindah ke Kenta Kon, yang saat ini menjabat sebagai Chief Financial Officer. Menariknya, Kon juga memiliki pandangan serupa dengan Sato.Ia menilai, meskipun laporan keuangan Toyota terlihat solid, bukan berarti perusahaan berada di zona aman. Justru sebaliknya, fondasi daya saing Toyota dinilai perlu diperkuat kembali agar tidak tertinggal.“Beberapa orang mungkin mengira Toyota berada di posisi nyaman. Tapi kenyataannya tidak seperti itu,” kata diaSelain tekanan pasar, Toyota juga sempat dihantam sejumlah isu internal dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari skandal uji mesin hingga masalah pengujian keselamatan pada model lama. Meski begitu, kepemimpinan Akio Toyodasaat itu mengambil tanggung jawab atas kejadian tersebut. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Kini, Toyota mencoba bangkit dengan berbagai strategi baru, termasuk memisahkan lini produk premium Century dan divisi performa Gazoo Racing menjadi sub-brand tersendiri.Namun satu hal yang jelas: meski masih jadi raja otomotif global, Toyota tak lagi bisa santai. Alarm sudah dibunyikan—dan perubahan jadi satu-satunya jalan untuk bertahan.