Daihatsu Sigra Rencana pemberian insentif otomotif kembali menjadi perbincangan hangat, menyusul melemahnya pasar kendaraan roda empat nasional selama setahun terakhir. Di tengah penurunan daya beli dan ancaman pelemahan industri, Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa kebijakan apa pun perlu diarahkan tepat sasaran yaitu menyokong segmen kelas menengah bawah dan mendorong pemanfaatan tingkat komponen dalam negeri.Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan bahwa insentif bukan semata-mata upaya menjaga stabilitas produsen, melainkan alat untuk mempertahankan ekosistem industri otomotif dari hulu ke hilir, mulai dari pabrik, industri komponen, hingga tenaga kerja. Produksi Perdana Mobil Listrik ORA 03 di Fasilitas Manufaktur Inchcape Indonesia Artinya, prioritas kebijakan harus kembali pada kelompok masyarakat dengan sensitivitas harga paling tinggi, sekaligus pada model kendaraan yang memberi nilai tambah terbesar bagi industri dalam negeri. “Walaupun jenis dan bentuk insentif belum dirumuskan, usulannya akan mengarah ke segmen kelas menengah–bawah dan didasarkan pada nilai TKDN,” ujar Febri dalam keterangan yang diterima VIVA, Senin 1 Desember 2025. Penjualan kendaraan roda empat pada segmen entry level, di bawah Rp 200 juta, low Rp 200–400 juta serta segmen komersial tercatat menurun tajam sepanjang tahun 2025. Padahal segmen-segmen tersebut selama ini menjadi fondasi pasar domestik dan tulang punggung produksi pabrik otomotif di Indonesia. Melemahnya penjualan membuat utilisasi manufaktur tertekan, dan dalam jangka panjang berpotensi mengancam investasi serta lapangan pekerjaan.Di sisi lain, penjualan kendaraan listrik (EV) memang meningkat signifikan. Namun tingginya porsi impor — sekitar 73 persen dari total penjualan EV 2025 — membuat manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan negara asal produksi ketimbang industri dalam negeri.Ia menilai, dengan mendorong insentif pada segmen kendaraan yang memiliki TKDN tinggi, efeknya akan langsung mengalir pada pabrik, pemasok komponen lokal, hingga tenaga kerja.Selain itu, insentif untuk segmen menengah–bawah juga dinilai akan membantu memulihkan daya beli masyarakat, terutama kelompok pembeli mobil pertama yang paling terdampak kenaikan harga.“Kami memandang bahwa dibutuhkan insentif untuk membalikkan keadaan tersebut,” tutur dia.Dalam kesempatan sama, dukungan terhadap konsep insentif terarah ini juga datang dari pelaku komunitas otomotif. Founder Xpander Mitsubishi Owners Club (X-MOC), Sonny Eka Putra, menyatakan bahwa insentif harus mempertimbangkan kebutuhan tiap segmen.“Insentif diperlukan untuk mobil kalangan menengah ke bawah agar tepat sasaran. Kalau segmen atas rasanya tidak wajib, karena memang dianggap mampu membeli,” ujarnya.Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Pengawas Calya Sigra Club (Calsic), Ryan Cayo, yang menilai bahwa insentif bukan sekadar “diskon” bagi industri, melainkan stimulus agar daya beli tetap bergerak.“Ketika pemerintah memberi sinyal yang tidak pasti, konsumen dan pelaku usaha menjadi lebih berhati-hati, dan itu bisa semakin memperlambat pemulihan pasar,” ungkapnya.Ketidakpastian kebijakan juga berdampak pada pasar mobil bekas. Owner showroom Indigo Auto, Yudy Budiman, menyebut banyak konsumen menunda pembelian sembari menunggu apakah akan ada insentif baru yang membuat harga turun.“Penundaan pembelian terjadi cukup besar, penurunan pasar mobil bekas bisa 10–20 persen,” katanya.