Tak sedikit orang mengira aquaplaning hanya terjadi saat kendaraan melaju di kecepatan tinggi. Padahal aquaplaning bisa muncul pada kecepatan relatif rendah, tergantung pada kondisi ban serta permukaan jalan yang dilalui. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan bahwa aquaplaning bahkan dapat terjadi pada kecepatan di bawah 80 km/jam. Kondisi ini kerap tidak disadari oleh pengemudi, terutama saat hujan deras atau jalan tergenang air. Aquaplaning merupakan risiko yang mengintai pengendara saat berkendara di musim hujan. "Padahal, pada kecepatan 60 km/jam pun bisa terjadi, terutama jika kondisi ban tekanannya terlalu tinggi atau bannya sudah gundul," kata Jusri kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026). Jusri menjelaskan bahwa perbedaan kecepatan sangat memengaruhi kemampuan pengemudi dalam mengendalikan kendaraan saat terjadi aquaplaning. "Pada kecepatan sekitar 60 km/jam, aquaplaning masih bisa saja terjadi, tetapi umumnya masih relatif mudah dikoreksi (dikendalikan)," ungkap Jusri. "Namun, pada kecepatan di atas 80 km/jam, koreksi sudah menjadi lebih sulit. Biasanya akan muncul kepanikan yang justru memperparah kesalahan dan meningkatkan potensi tindakan keliru dari pengemudi," katanya. Ilustrasi aquaplaning Adapun pada kecepatan yang lebih ekstrem, Jusri mengatakanm risiko kehilangan kendali hampir tidak bisa dihindari. "Sementara itu, pada kecepatan 100 km/jam, kondisi kendaraan sudah dipastikan sangat sulit dikendalikan, bahkan bagi pengemudi yang berpengalaman sekalipun," katanya. Jusri menambahkan bahwa ketebalan genangan air juga berperan besar dalam memicu aquaplaning. "Lapisan air yang sangat tipis, sekitar satu sentimeter, bahkan kurang dari itu, sudah bisa membuat situasi aquaplaning terjadi," ujar Jusri. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang