Performa Francesco Bagnaia pada MotoGP 2026 mendapat sorotan tajam dari pengamat sekeligus manajer pebalap senior Carlo Pernat. Menurutnya, penurunan performa pebalap Ducati Lenovo Team itu bukan disebabkan masalah teknis, melainkan faktor mental sejak Marc Marquez bergabung dengan tim pabrikan Ducati. Pernat menilai persoalan yang dialami Bagnaia lebih berkaitan dengan kondisi psikologis daripada kemampuan mengendarai motor. "Di MotoGP ada pebalap yang benar-benar fenomenal, dan ada juga yang merupakan juara," kata Pernat dikutip dari Speedweek, Sabtu (25/7/2026). Francesco Bagnaia (Ducati) kembali naik ke peringkat ketiga di klasemen MotoGP usai kemenangan di Sprint Race MotoGP Malaysia 2025. Sprint Race MotoGP Malaysia 2025 digelar di Sirkuit Sepang, Sabtu (25/10/2025), siang WIB. "Menurut saya, hanya ada tiga pebalap fenomenal, yaitu Marc Marquez, Pedro Acosta, dan Fabio Quartararo. Sementara Pecco Bagnaia masuk dalam kelompok juara," ujar Pernat. Meski begitu, Pernat menegaskan penilaiannya tersebut bukan berarti meremehkan prestasi Bagnaia. "Dia adalah juara yang telah memenangkan tiga gelar dunia, satu di Moto2 dan dua di MotoGP. Anda tidak mungkin menjadi juara jika bukan pebalap hebat. Tetapi dia bukan talenta yang luar biasa," katanya. Marquez dan Ducati Bagnaia memang tengah menjalani musim yang sulit. Hingga paruh pertama MotoGP 2026, juara dunia MotoGP dua kali itu baru menempati posisi kedelapan klasemen sementara. Pernat menilai titik balik performa Bagnaia terjadi ketika Ducati mengumumkan perekrutan Marc Marquez ke tim pabrikan untuk musim 2025. Pebalap Ducati Lenovo Team, Francesco Bagnaia, melambai kepada para penggemar dalam sesi latihan bebas MotoGP Jepang 2025 di Mobility Resort Motegi di Motegi, prefektur Tochigi pada 27 September 2025. (Foto oleh Toshifumi KITAMURA / AFP) "Saat Ducati memutuskan merekrut Marquez, sejak hari berikutnya pikirannya mulai berjalan ke arah yang salah. Menurut saya, Bagnaia mengalami masalah dari sisi psikologis," ujar Pernat. Menurut dia, penurunan performa Bagnaia sulit dijelaskan hanya karena faktor teknis atau perubahan di dalam tim. "Anda tidak mungkin mengendarai motor seperti yang dia lakukan selama dua musim terakhir, bahkan dengan Marquez sebagai rekan setim. Memang benar Marquez selalu mengalahkan rekan setimnya. Itu bisa dimengerti. Tetapi tidak sampai seperti ini," katanya. Pernat juga menilai tidak ada perubahan signifikan di lingkungan kerja Bagnaia yang dapat dijadikan alasan atas merosotnya performa. "Timnya masih sama seperti saat dia meraih dua gelar juara dunia. Kepala kru masih sama, para insinyurnya juga sama, sirkuitnya juga sama. Satu-satunya yang berubah adalah pikiran Bagnaia," katanya. Francesco Bagnaia saat berlaga pada MotoGP Thailand 2026 Gagal di Paruh Musim Berdasarkan penilaiannya tersebut, Pernat memberikan evaluasi yang sangat keras terhadap penampilan Bagnaia sepanjang paruh pertama musim MotoGP 2026. "Karena semua alasan itu, nilai saya untuk paruh pertama musim Bagnaia adalah gagal," ujarnya. Alasannya yaitu absennya Marc Marquez di beberapa seri akibat cedera juga belum mampu dimanfaatkan Bagnaia untuk memangkas jarak poin. Meski masih mengendarai Desmosedici GP yang kompetitif, pebalap asal Italia itu belum mampu menunjukkan konsistensi seperti dalam dua musim terbaiknya. Sementara itu, kehadiran Marquez di kubu Ducati dinilai semakin meningkatkan tekanan psikologis yang harus dihadapi Bagnaia.