Uni Eropa memberlakukan tarif tambahan terhadap mobil listrik (BEV) buatan China untuk melindungi industri otomotif lokal dari produk impor yang harganya lebih kompetitif. Namun melansir dari Carscoops, kebijakan tersebut ternyata belum sepenuhnya mampu menghambat ekspansi produsen otomotif China. Alih-alih bertumpu pada mobil listrik murni, pabrikan China mengalihkan fokus ke mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) yang baterainya bisa diisi ulang melalui sumber listrik eksternal. Strategi tersebut terbukti berhasil. Penjualan mobil PHEV asal China di Eropa terus meningkat hingga kini menguasai lebih dari sepertiga pasar kendaraan plug-in hybrid di kawasan tersebut. Ketika pintu masuk untuk mobil listrik murni dipersempit melalui tarif impor, produsen China memilih jalur lain yang saat ini belum dikenai kebijakan serupa. GAC E9 PHEV Berdasarkan data penjualan terbaru, produsen China menguasai sekitar 34 persen pasar PHEV di Eropa pada Juni 2026. Pertumbuhan itu disokong oleh merek-merek seperti BYD, Chery, dan Geely. Termasuk pula Polestar dan Leapmotor meski keduanya memiliki hubungan kepemilikan atau kerja sama dengan merek Eropa. Sementara itu, data lembaga riset otomotif Dataforce menunjukkan bahwa produsen China menguasai sekitar 11 persen penjualan mobil baru di Eropa sepanjang Juni. Untuk segmen mobil listrik murni, pangsa pasarnya mencapai sekitar 15 persen. Namun, dalam satu setengah tahun terakhir pertumbuhan mobil listrik di Eropa cenderung stagnan, dengan pangsa pasar berkisar 10 hingga 15 persen. Sebaliknya, permintaan terhadap mobil plug-in hybrid terus meningkat. Jika digabung dengan hybrid konvensional, pangsa pasar kendaraan elektrifikasi buatan China mendekati 25 persen dari total pasar hybrid di Eropa. China mengekspor sekitar tujuh juta unit mobil per tahun, di mana hampir setengahnya merupakan kendaraan listrik. Siapkan Tarif Baru Melihat pesatnya pertumbuhan PHEV asal China, Uni Eropa kini mulai mempertimbangkan langkah lanjutan. Komisi Eropa dikabarkan tengah mempersiapkan tarif impor khusus untuk mobil PHEV buatan China. Kebijakan tersebut dapat diterapkan setelah memperoleh persetujuan dari mayoritas negara anggota Uni Eropa. Jika disetujui, skema tarifnya diperkirakan akan mengikuti aturan yang sudah diterapkan pada mobil listrik asal China sejak 2024. Besaran tarif kemungkinan berbeda untuk setiap produsen, bergantung pada tingkat kerja sama mereka selama proses investigasi yang dilakukan otoritas Uni Eropa. Sebagai gambaran, tarif tambahan untuk mobil listrik China saat ini berkisar antara 7,8 persen hingga 35,3 persen. BYD M6 PHEV China Sudah Bersiap Di tengah rencana penerapan tarif baru, sejumlah produsen China ternyata sudah menyiapkan strategi untuk mempertahankan daya saing mereka di Eropa. Salah satunya adalah membangun fasilitas produksi langsung di negara-negara Eropa. Dengan memproduksi kendaraan secara lokal, mereka dapat menghindari tarif impor yang dikenakan terhadap kendaraan yang didatangkan langsung dari China. BYD, misalnya, telah mengoperasikan pabrik di Hungaria. Sementara itu, SAIC berencana membangun fasilitas produksi di Spanyol. Selain kedua perusahaan tersebut, Dongfeng, Chery, Geely, dan Leapmotor juga dilaporkan akan atau berpotensi memanfaatkan pabrik yang sudah ada di Eropa untuk merakit kendaraan.