Industri otomotif global diperkirakan memasuki fase pergeseran kekuatan baru. Produsen mobil asal China disebut berpeluang menguasai hingga sepertiga pasar dunia dalam lima tahun mendatang, menantang dominasi lama seperti Toyota. Mengutip Carscoops, laju ekspansi merek China ke berbagai kawasan dinilai semakin solid, didukung kemampuan elektrifikasi, efisiensi biaya, serta peningkatan kapasitas produksi di luar negeri. Perubahan ini tidak lagi dipandang sebagai gangguan sesaat, melainkan penataan ulang peta industri otomotif global. Semarak mobil imitasi China. Analis UBS menilai pasar domestik China memang masih bertumbuh, namun ketergantungan pada ekspor kini menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis produsen otomotif negeri tersebut. Ekspansi global dinilai krusial untuk menjaga margin dan skala pertumbuhan. Dalam proyeksi terbarunya, UBS mencatat pasar luar China kini berkontribusi sekitar 20 persen terhadap total penjualan industri otomotif China. Bahkan, pada sejumlah produsen, pasar ekspor menyumbang hingga separuh dari total keuntungan. Perkiraan ini tetap dipertahankan UBS sejak dua tahun terakhir, meskipun produsen mobil China terus menambah fasilitas produksi di Eropa. Di sisi lain, beberapa pabrikan otomotif konvensional justru mulai meninjau ulang strategi kendaraan listrik mereka akibat tekanan laba dan melambatnya permintaan. "Hambatan utama disebabkan oleh melambatnya adopsi kendaraan listrik di Eropa, serta tarif dan proteksionisme terhadap kendaraan listrik China. Saya pikir kemajuan tahun 2024 lebih lambat dari yang diharapkan, tapi tanda-tanda terbaru menunjukkan adanya peningkatan," kata Paul Gong, analis utama UBS dikutip Minggu (11/1/2026). Ilustrasi pabrik mobil Hyundai di Korea Selatan. Laporan South China Morning Post (SCMP) menyebut strategi jangka panjang China dalam kendaraan listrik mulai memperlihatkan hasil. Integrasi vertikal, penguasaan teknologi inti, serta pembangunan rantai pasok secara agresif menjadi fondasi utama pertumbuhan tersebut. Pendekatan ini bukan hanya memberikan keunggulan biaya, tetapi juga mempermudah produsen China meningkatkan volume produksi sekaligus merespons perubahan pasar dengan cepat. Frank Diana, mitra pengelola di Tata Consultancy Services, menilai kekuatan utama China terletak pada kecepatan adaptasi, bukan semata skala produksi. “Fakta bahwa (China) telah belajar secara agresif berarti mereka akan memiliki posisi dominan dan pangsa pasar yang besar,” ujarnya. UBS memperkirakan bangkitnya merek-merek China akan menggerus dominasi pemain besar global. Saat ini, Volkswagen dan Toyota secara gabungan masih menguasai sekitar 81 persen pangsa pasar di segmen utama. Pada 2030, pangsa tersebut diprediksi menyusut menjadi 58 persen. Sementara itu, pangsa pasar global Tesla diperkirakan melonjak dari sekitar 2 persen saat ini menjadi 8 persen pada periode yang sama. Strategi lain yang menopang ekspansi produsen China adalah penguatan produksi lokal di berbagai negara. Thailand menjadi salah satu basis penting, dengan kehadiran pabrik perakitan milik SAIC Motor, Great Wall, BYD, GAC, Changan Automobile, dan Chery. Great Wall dan BYD juga telah menanamkan investasi manufaktur di Brasil. Di Eropa, BYD tengah membangun fasilitas berskala besar di Hongaria sebagai bagian dari upaya memperluas penetrasi pasar regional. Para analis menilai langkah investasi awal tersebut memberi keuntungan berlapis bagi produsen China. Pengendalian rantai pasok, efisiensi biaya, serta kemampuan belajar cepat dinilai menjadi kombinasi yang sulit disaingi. Keunggulan ini menempatkan China dalam posisi strategis seiring industri kendaraan listrik global bergerak menuju fase konsolidasi. “Jadi akan terjadi konsolidasi bahkan di tingkat pasar kendaraan listrik, dan Anda akan berakhir dengan 10 hingga 15 pengelola platform yang terdiri dari [produsen peralatan asli dan] perusahaan teknologi besar,” kata Diana. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang