Pertamina Patra Niaga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terkait antrean BBM yang terjadi di sejumlah SPBU. Antrean panjang tersebut disebut dipicu oleh peningkatan konsumsi BBM bersubsidi dan fenomena pembelian berlebihan atau panic buying. Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Taufiq Aditiyawarman mengatakan, kondisi tersebut terjadi akibat pergeseran konsumsi masyarakat ke Pertalite dan Biosolar, serta adanya keterlambatan distribusi dalam merespons lonjakan penyerapan BBM subsidi. Antrean kendaraan di SPBU Junok, Sabtu (27/6/2026). “Kami menyadari dalam beberapa waktu terakhir masih terjadi antrean dan pembelian secara berlebihan atau panic buying di beberapa wilayah,” ujar Taufiq, dikutip dari Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII yang disiarkan Youtube DPR RI, Kamis (23/7/2026). Menurutnya, antrean juga banyak terjadi di Sumatera secara umum, dan secara umum dipengaruhi oleh peralihan konsumsi BBM ke BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar. “Dan juga mungkin adanya lagging distribusi untuk merespon peningkatan volume penyerapan BBM bersubsidi tersebut ke lembaga penyalur,” kata dia. Konferensi pers hasil rapat BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Kamis (16/7/2026) Pertamina Mohon Maaf Taufiq menegaskan, Pertamina memahami ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat akibat antrean di SPBU. “Tentunya atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat, kami menyampaikan permohonan maaf,” kata dia. Menurut Taufiq, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah untuk mempercepat normalisasi kondisi di lapangan. Upaya tersebut antara lain menambah armada distribusi, memperpanjang jam operasional SPBU, serta meningkatkan frekuensi penyaluran BBM dari depo ke SPBU. Ilustrasi mobil diesel mengisi Biosolar di SPBU Pertamina “Yang sudah kami lakukan untuk menambah pasokan dan pengaturan pola distribusi, yaitu dengan menambah armada. Kemudian juga menambah jam operasi dari SPBU dan penyaluran distribusi dari depo ke SPBU,” ujarnya. Selain itu, Pertamina juga berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat untuk mempercepat penanganan antrean dan pemulihan distribusi BBM. Antrean pengisian BBM Pertalite di SPBU Pertamina Manahan Solo, Kamis (11/6/2026) Stok nasional disebut masih aman Meski terjadi lonjakan penyaluran, Pertamina memastikan stok BBM dan LPG secara nasional masih dalam kondisi terkendali. “Tentunya berdasarkan posisi stok per 16 Juli, secara nasional ketersediaan BBM dan LPG berada dalam kondisi yang terkendali. Jadi secara total mungkin ada sekitar 3,61 juta kiloliter,” kata Taufiq. Ia juga mengungkapkan bahwa realisasi penyaluran BBM subsidi saat ini berada di atas konsumsi normal. Penyaluran Pertalite tercatat mencapai 104 persen dibandingkan thruput harian, sedangkan Biosolar mencapai sekitar 105 persen. “Namun demikian peningkatan penyaluran tersebut masih dapat dilayani dan terus dimonitor secara harian,” kata Taufiq.