PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan sistem transportasi publik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Langkah masif kini tengah dilakukan melalui percepatan elektrifikasi bus serta penguatan integrasi antarmoda secara menyeluruh di wilayah DKI Jakarta. Integrasi antar transportasi umum Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta, Mohamad Deddy Gamawan (Dega), mengatakan, pengembangan transportasi publik di Jakarta tidak sekadar berfokus pada perluasan jangkauan, tetapi juga pada konektivitas antarlayanan demi kenyamanan mobilitas warga. “Transjakarta terus berupaya menghadirkan layanan yang mampu menjangkau lebih banyak wilayah sekaligus mempermudah perjalanan masyarakat melalui integrasi antarmoda. Dengan jaringan yang saling terhubung, saat ini coverage area Transjakarta sudah mencapai 92 persen area DKI Jakarta. Masyarakat dapat menikmati moda transportasi publik yang lebih praktis, nyaman, dan efisien,” ujarnya pada keterangan resmi, Rabu (2/9/2026). Dega menjelaskan, perluasan jangkauan ini dirancang untuk memperkuat konektivitas first and last mile, sehingga mobilitas masyarakat dari titik keberangkatan awal hingga tujuan akhir bisa terakomodasi dengan mulus. Tidak hanya berfokus pada fisik dan rute, integrasi juga merambah aspek finansial pengguna. Transjakarta telah memberlakukan integrasi tarif lintas moda dengan batasan maksimum atau plafon sebesar Rp10.000 untuk durasi perjalanan hingga 180 menit. "Integrasi bukan sebatas keterhubungan halte atau rute, melainkan juga kemudahan perpindahan penumpang antarmoda secara efisien," ujar Dega. Bus Listrik Sejalan dengan visi mobilitas hijau, Transjakarta mempercepat transisi ekosistem transportasi rendah emisi. "Target tersebut ialah pada tahun 2030 mendatang, sebanyak 96 persen kontrak operator eksisting ditargetkan sudah beralih menggunakan kendaraan berbasis listrik," kata Dega Strategi elektrifikasi ini dijalankan melalui berbagai lini, mulai dari peremajaan bus, pengadaan bus listrik baru, hingga penerapan skema retrofit, yakni konversi kendaraan konvensional yang sudah ada agar bertenaga listrik. Melalui kombinasi antara perluasan cakupan rute, integrasi tarif lintas moda, serta masifnya konversi ke bus listrik, Transjakarta optimistis ekosistem transportasi perkotaan di Jakarta dapat menjadi acuan mobilitas masa depan yang modern, terjangkau, dan rendah emisi.