Perawatan transmisi otomatis atau matik sering kali dianggap sepele oleh sebagian pemilik mobil. Padahal, keterlambatan mengganti oli transmisi bisa menimbulkan berbagai masalah serius, salah satunya perpindahan gigi yang terasa tersendat atau 'nyangkut'. Menurut Johan, pemilik bengkel JJ Mobil Bekasi, banyak pemilik mobil, terutama mobil bekas yang lalai mengganti oli transmisi sesuai jadwal. Besi pengunci pada gigi P di transmisi mobil matik. “Banyak pemilik mobil seken yang menunda penggantian oli transmisi matik. Padahal, lama-kelamaan kualitas oli tersebut akan menurun dan daya lubrikasinya berkurang,” ujar Johan kepada Kompas.com, belum lama ini. Ia menjelaskan, oli transmisi berperan penting sebagai pelumas sekaligus media tekanan hidrolik untuk memindahkan gigi pada sistem transmisi otomatis. Jika kualitas oli menurun, gesekan antar komponen bisa menimbulkan serpihan kotoran atau endapan. “Endapan ini bisa menyumbat komponen di dalam gearbox, menyebabkan perpindahan gigi tersendat bahkan terasa hentakan saat mobil berjalan,” kata Johan. Oleh karena itu, Johan menyarankan pemilik kendaraan untuk rutin mengganti oli transmisi matik setiap 25.000 sampai 30.000 kilometer. Transmisi mobil matik CVT “Kalau kondisi mobil sering digunakan di jalan lancar, bisa diganti pada interval 50.000 sampai 60.000 kilometer,” ucapnya. Johan juga menambahkan, oli transmisi yang jarang diganti dapat menyebabkan gejala perpindahan gigi menjadi kasar atau timbul hentakan seperti 'jedug'. “Transmisi otomatis sangat bergantung pada tekanan oli. Kalau tekanan tidak stabil akibat oli kotor atau encer, perpindahan gigi jadi tidak halus,” tuturnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.