Banyak yang berdebat soal patokan ganti oli mesin. Sebagian berpatokan pada odometer, sebagian lagi berpatokan pada bulan. Oli mesin bisa dikatakan sebagai komponen yang bersifat fast moving, karena harus diganti secara berkala. Ilustrasi ganti oli transmisi mobil CVT Cairan ini punya masa pakai, harus diganti dengan yang baru agar performa mesin terjaga. Prijodie Amdhani, penggawa bengkel spesialis transmisi JMW Motor Werke, mengatakan, analisis saya selama 15 tahun, untuk di kota yang padat seperti Jakarta, satu jam kita kena macet itu setara dengan menempuh 65 km hingga 70 km. "Kita asumsikan dalam sehari kena macet 4 jam total, di hari efektif kantor. Jadi, 4 jam di kali 70 km, sehari itu 280 km," ujar Jodie, kepada Kompas.com, belum lama ini. Speedometer Honda HR-V hybrid "Nah, dalam sebulan mobil dipakai 25 hari. Jadi, 280 km dikalikan lagi 25 hari. Jadi, totalnya 7.000 km," kata Jodie. Jodie menambahkan, 7.000 km tersebut adalah engine working hour (masa kerja mesin), untuk di kota-kota besar, seperti Bandung, Surabaya, Medan, Makassar. Berbeda lagi dengan kota-kota seperti Wonosobo yang lalu lintasnya lancar atau Solo yang kemacetannya masih di bawah Jakarta. "Setelah hitung 25 hari, lihat trip di dasbor dalam sebulan kira-kira berapa, anggap saja 5.000 km. Nah, itu baru yang namanya mile distance running. Untuk menghitung usia mesin, perhitungannya adalah engine working hour ditambah mile distance running," ujarnya. Menurut Jodie, patokan tersebut yang seharusnya digunakan ketika seseorang ingin melakukan pergantian oli mesin. Jadi, tidak perlu menunggu misalkan hingga 10.000 km atau 6 bulan sekali. Sehingga, mesin mobil tetap dapat terjaga performanya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang