MotoGP akan memasuki era baru pada 2027 dengan perubahan besar pada regulasi teknis. Salah satu perubahan paling signifikan adalah kapasitas mesin yang akan dipangkas dari 1.000 cc menjadi 850 cc. Selain kapasitas mesin, regulasi baru juga akan mengubah sejumlah aspek teknis motor MotoGP, termasuk aerodinamika. Pengurangan kapasitas mesin tersebut tentu berdampak pada tenaga yang dihasilkan. Direktur Teknik Aprilia, Fabiano Sterlacchini, memperkirakan setiap motor akan kehilangan sekitar 50 tenaga kuda (hp). Namun berkurangnya tenaga mesin justru membuat sektor tersebut menjadi lebih krusial. Aprilia RS-GP untuk musim 2023 Menurut Sterlacchini motor MotoGP saat ini tidak selalu menggunakan seluruh tenaga mesin dalam satu putaran. Dalam satu lap, motor mengeluarkan tenaga maksimal hanta 15-20 persen.. "Turun dari 1.000 cc menjadi 850 cc berarti kehilangan sekitar 50 Tk," kata Sterlacchini dikutip dari Speedweek, Selasa (1/9/2026). "Saat ini, motor benar-benar berada pada batas kemampuan mesinnya sekitar 15 hingga 20 persen dari satu putaran. Pada kondisi tersebut, katup gas terbuka sepenuhnya. Jika kehilangan 50 Tk, kondisi itu akan meningkat menjadi 30 hingga 40 persen," katanya. Artinya, setelah kapasitas mesin dikurangi, pebalap akan lebih sering membutuhkan tenaga mesin secara maksimal. "Seberapa penting saat ini menemukan tenaga ekstra dari mesin? Tidak terlalu penting, karena saya tidak menggunakan tenaga penuh tersebut dalam waktu yang lama. Mulai musim depan, hal ini akan menjadi dua kali lebih penting," katanya. Pebalap Aprilia Racing, Jorge Martin, berselebrasi saat melewati garis finis di MotoGP Perancis 2026 di Le Mans, barat laut Prancis, pada 10 Mei 2026. (Foto oleh Loic VENANCE / AFP) Dengan kata lain, tim MotoGP akan dituntut semakin pintar mencari tenaga tambahan dari mesin 850 cc. Setiap peningkatan tenaga bisa menjadi semakin berarti karena mesin akan lebih sering bekerja pada kondisi maksimal. Orkestra Menurut Sterlacchini, pengembangan motor MotoGP harus dilakukan secara menyeluruh karena setiap bagian saling memengaruhi layaknya orkestra. "Anda bisa memiliki musisi yang sangat bagus, tetapi pemain drum mungkin bermain terlalu keras dan menenggelamkan suara alat musik tiup. Mungkin juga satu orang memainkan musik rock, sementara yang lain memainkan simfoni klasik," katanya. Artinya, memiliki mesin bertenaga besar belum tentu membuat sebuah motor menjadi kompetitif jika tidak diimbangi dengan sasis, aerodinamika, elektronik, ban, dan komponen lainnya. Pebalap Gresini Racing, Fermin Aldeguer (tengah) dan pebalap Aprilia Racing, Jorge Martin (kiri) mengalami kecelakaan saat Pedro Acosta (kanan) dari Tim Red Bull KTM Factory Racing melaju setelah start balapan MotoGP Hongaria 2026 di sirkuit Balaton Park di Balatonfokajar, Hongaria, pada 7 Juni 2026. (Foto oleh Ferenc ISZA / AFP) Sterlacchini mengatakan, seorang konduktor harus mengetahui bagian mana yang perlu diperkuat. "Pada titik tertentu, dia harus mengatakan: Kita kekurangan piano, saya ingin oboe. Kita perlu berinvestasi pada bagian ini, bukan bagian itu," katanya. Potensi Aerodinamika Selain mesin, aerodinamika menjadi salah satu sektor yang menurut Sterlacchini masih memiliki potensi besar. Dalam beberapa tahun terakhir, aerodinamika memang menjadi semakin penting di MotoGP. Tim berlomba mengembangkan perangkat seperti winglet dan berbagai bentuk fairing untuk meningkatkan kestabilan motor, terutama saat akselerasi dan pengereman. Sterlacchini menilai perkembangan aerodinamika motor masih jauh dibandingkan Formula 1. Jorge Martin saat tes perdana menggunakan Aprilia RS-GP. "Dalam aerodinamika sepeda motor, saya pikir kita tertinggal 30 hingga 50 tahun dibandingkan Formula 1. Masih banyak yang harus ditemukan," katanya. Menariknya, bukan hanya desain motor yang diperhitungkan. Gerakan tubuh pebalap juga dapat memengaruhi aliran udara. "Ketika seorang pebalap keluar dari fairing atau menjulurkan kakinya, dia menghasilkan gaya yang berada di luar garis tengah motor," ujarnya. Gaya tersebut ternyata dapat membantu motor saat memasuki tikungan. "Untuk membantu membelokkan motor dan mengarahkannya ke tikungan saat pengereman, seperti dayung, hanya saja menggunakan udara, bukan air," kata Sterlacchini. Menurut Sterlacchini, konsep tersebut merupakan sesuatu yang relatif baru dalam pengembangan MotoGP.