Pemerintah resmi menerapkan mandatori biodiesel B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026. Kurang lebih sepekan kemudian, tepatnya pada 9 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto meresmikan peluncuran program tersebut di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang. Kini lebih dari dua pekan setelah kebijakan itu berlaku, Kompas.com mulai mencari keberadaan B50 di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), milik Pertamina. Kami mencoba menelusuri ketersediaan B50 menggunakan Isuzu Panther Grand Touring keluaran 2016 yang memiliki barcode pembelian solar subsidi. Biosolar B50 Pencarian B50 dilakukan di tiga SPBU Pertamina yang berada di kawasan Sunter dan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Wilayah ini dipilih bukan tanpa alasan. Sunter dan Tanjung Priok merupakan kawasan yang dekat dengan pusat industri, pergudangan, hingga Pelabuhan. Dengan banyaknya truk dan kendaraan niaga bermesin diesel yang beroperasi setiap hari, pasokan solar umumnya lebih mudah ditemukan dibanding wilayah lain. Pencarian dilakukan di SPBU berjenis COCO (Company Owned Company Operated), atau SPBU milik dan dioperasikan langsung oleh Pertamina yang punya kode 31 di bagian depan. Selain itu, pencarian juga dilakukan di SPBU mitra swasta, atau DODO (Dealer Owned Dealer Operated) dengan kode 34 di bagian depan. Biosolar B50 Hasilnya, dari tiga SPBU yang didatangi di kawasan Sunter dan Tanjung Priok, hanya satu SPBU yang sudah menjual B50, yakni SPBU 31. Operator SPBU tersebut memastikan bahwa bahan bakar diesel yang dijual saat ini sudah menggunakan campuran B50. "Sudah B50, dari kapannya itu dari 1 Juli (2026) kemarin kita memang sudah ada," kata operator SPBU kepada Kompas.com, Selasa (21/7/2026). Meski demikian, ia belum bisa memastikan kondisi di SPBU lain. "Kalau untuk tempat lain saya engga tahu ya. Mungkin memang bertahap ya," ujarnya. SPBU Pertamina COCO Masa Transisi Belum meratanya distribusi B50 memang sejalan dengan skema implementasi yang diterapkan pemerintah. Saat ini, program mandatori B50 masih berada dalam masa transisi selama tiga bulan. Selama periode tersebut, distribusi dilakukan secara bertahap hingga seluruh jaringan SPBU siap menjual produk baru tersebut. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan, pemerintah menargetkan seluruh SPBU di Indonesia sudah menjual B50 mulai 1 Oktober 2026. "Ditargetkan pada 1 Oktober 2026, seluruh SPBU sudah menjual B50," ujar dalam keterangannya, belum lama ini. Biosolar B50 B50 B50 merupakan bahan bakar biodiesel yang terdiri dari campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak sawit dan 50 persen solar berbasis minyak bumi. Angka "50" menunjukkan persentase kandungan biodiesel di dalam campuran tersebut. Program ini merupakan kelanjutan dari kebijakan B20, B30, B35, hingga B40 yang telah diterapkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. FAME sendiri merupakan biodiesel yang diproduksi dari Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit melalui proses kimia yang disebut transesterifikasi. Biosolar B50 Setelah menjadi FAME, bahan tersebut dicampurkan dengan solar sehingga menghasilkan B50. Semakin besar angka di belakang huruf "B", semakin tinggi pula kandungan biodiesel di dalam bahan bakar tersebut. Sebagai perbandingan, B20 mengandung 20 persen FAME, B30 sebanyak 30 persen, B40 mengandung 40 persen, sedangkan B50 memiliki kandungan biodiesel hingga 50 persen. B50 hanya digunakan pada kendaraan bermesin diesel dan tidak diperuntukkan bagi kendaraan berbahan bakar bensin. Penggunanya meliputi mobil penumpang diesel, truk, bus, alat berat, kendaraan pertanian, mesin industri, kapal tertentu, hingga generator set (genset). Isuzu Panther Grand Touring 2016 Program Melalui program ini, pemerintah ingin mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Selain itu, penggunaan biodiesel juga diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan penyerapan minyak sawit dalam negeri, sekaligus membantu menurunkan emisi gas rumah kaca. Selain itu B50 diharapkan bisa memberikan multiplier effect yang besar berupa peningkatan nilai tambah minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar Rp23,49 triliun serta menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja. Di sektor lingkungan, B50 juga dapat menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2 pada tahun ini.