Toyota Motor Corporation (TMC) mulai mengirim sinyal keras terhadap seluruh rantai pasoknya bahwa industri otomotif saat ini tidak sedang baik-baik saja. Mantan CEO Toyota Koji Sato, bahkan menyebut situasinya sudah mengarah ke krisis, dengan tekanan yang datang dari berbagai pihak. Mulai dari persaingan teknologi hingga geopolitik. Pabrik Toyota di Karawang Dikutip Automotive News, peringatan itu disampaikan langsung di hadapan 484 pemasok dalam sebuah forum besar. “Jika tidak berubah, kita tidak akan bertahan. Saya ingin semua menyadari rasa krisis ini,” ujarnya, Rabu (1/4/2026). Ia menegaskan, industri otomotif kini berada dalam fase bertahan hidup. Tekanan datang secara bersamaan dan kian kompleks. Produsen otomotif China melaju cepat dengan efisiensi biaya yang agresif. Sementara peran software dalam kendaraan terus meningkat dan menjadi penentu daya saing. Ekspor mobil Toyota Faktor eksternal juga belum mereda. Tarif dan dinamika global masih membayangi. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan di industri ini bahkan melampaui beberapa dekade sebelumnya. Padahal, Toyota dikenal sebagai simbol efisiensi manufaktur lewat Toyota Production System dan filosofi Kaizen. Ketika Toyota mulai merasakan tekanan, hal itu menjadi sinyal kuat bahwa lanskap industri sedang bergeser. Sato pun meminta seluruh ekosistem bergerak bersama karena kini peningkatan produktivitas menjadi kunci menghadapi tantangan ke depan. “Pertarungan berat ada di depan. Kita harus memperkuat kemampuan untuk menang,” kata dia. Pabrik Toyota di Karawang Sebagai langkah awal, Toyota mulai mengubah pendekatan terhadap standar kualitas. Selama ini, pabrikan tersebut sangat ketat, bahkan untuk cacat kosmetik yang nyaris tidak terlihat. Kini, pendekatan itu dilonggarkan melalui program 'Smart Standard Activity'. Tujuannya memangkas standar yang dinilai berlebihan sekaligus menekan biaya. Sebelumnya, banyak komponen dibuang hanya karena cacat visual, meski tidak memengaruhi fungsi. Misalnya noda kecil pada panel interior atau perubahan warna pada kabel. Dengan penyesuaian ini, komponen yang masih layak pakai tidak lagi langsung ditolak. Langkah ini diharapkan mengurangi pemborosan di rantai pasok. Toyota juga memberi fleksibilitas kepada pemasok, termasuk dalam penggunaan alat produksi dan cetakan untuk suku cadang layanan. Sementara itu, CEO Toyota Kenta Kon mengakui posisi Toyota belum sepenuhnya aman. Padahal, penjualan global perusahaan mencapai sekitar 11 juta unit per tahun. Menurut dia, salah satu fokus ke depan adalah menurunkan titik impas agar lebih adaptif terhadap tekanan pasar. “Cara terbaik adalah membangun kembali fondasi daya saing yang mulai melemah,” ujar Kon. Ia menegaskan, penguatan daya saing menjadi kunci agar Toyota tetap relevan di tengah perubahan besar industri otomotif. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang