Keberadaan kendaraan dengan muatan dan dimensi berlebih atau Over Dimension Over Loading (ODOL) masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi industri jalan tol di Indonesia. Selain berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan, kendaraan ODOL disebut dapat mempercepat kerusakan fisik jalan tol. Kondisi tersebut menjadi perhatian Asosiasi Tol Indonesia (ATI) di tengah terus berkembangnya jaringan jalan tol nasional. Ketua Umum ATI Rivan A. Purwantono mengatakan, pengelolaan jalan tol tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memastikan jalan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Ilustrasi truk ODOL melintas di jalan tol "Pembangunan jalan tol pada akhirnya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Publik membutuhkan layanan jalan tol yang aman, nyaman, berkualitas, dan andal," ujar Rivan, dalam keterangan resmi, Minggu (9/8/2026). Menurut dia, ATI bersama pemerintah terus mendorong sinergi untuk menjaga keberlanjutan industri jalan tol sekaligus memastikan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Jalan Tol Indonesia Capai 3.115 Km Saat ini, jaringan jalan tol yang telah beroperasi di Indonesia mencapai 3.115,98 kilometer, yang terdiri dari 76 ruas dan dikelola oleh 59 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). Total investasi untuk ruas yang sudah beroperasi mencapai sekitar Rp 668 triliun. Sementara itu, jika ditambah ruas yang masih dalam tahap konstruksi dan persiapan, nilai investasi jalan tol nasional diproyeksikan mendekati Rp 1.000 triliun. Kendaraan melintas di Jalan Tol IKN Seksi 1B saat fungsional terbatas, Maret 2026 lalu. BBPJN Kaltim menerangkan, pembebasan lahan di Seksi 1B baru terealisasi 7 persen. Besarnya investasi tersebut membuat keberlanjutan pengelolaan jalan tol menjadi hal penting. Terlebih, sebagian besar ruas yang beroperasi masih berada pada fase awal hingga menengah dalam siklus pengembalian investasi. ATI menilai diperlukan struktur keuangan dan kebijakan yang sehat agar pengusahaan jalan tol dapat berlangsung dalam jangka panjang. Di tengah kebutuhan tersebut, persoalan kendaraan ODOL menjadi tantangan lain. Beban kendaraan yang melebihi batas dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap konstruksi jalan sehingga berpotensi mempercepat kerusakan. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan kebutuhan pemeliharaan jalan tol dan mengganggu kualitas layanan yang diterima pengguna. Truk ODOL di Tol Balmera Pemerintah dan Industri Diminta Bersinergi Selain persoalan kondisi fisik jalan, ATI juga menilai keberlanjutan industri jalan tol membutuhkan dukungan kebijakan dan skema pembiayaan yang tepat. Kapasitas pembiayaan pemerintah yang terbatas membuat partisipasi swasta diperlukan untuk mendukung pembangunan jaringan jalan tol nasional. Plt. Sekretaris Jenderal ATI Kristianto mengatakan, keselarasan antara pemerintah dan pelaku industri menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kebijakan jalan tol. Transaksi tol Single Lane Free Flow (SLFF) "Sinergi dan keseimbangan kebijakan sangat penting bagi masa depan industri jalan tol nasional," kata Kristianto. ATI berencana merumuskan berbagai masukan dari pemangku kepentingan melalui forum diskusi untuk dituangkan dalam dokumen rekomendasi kebijakan atau White Paper. Dokumen tersebut nantinya akan disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan masukan dalam menentukan kebijakan jalan tol nasional. Dengan jaringan yang terus bertambah dan nilai investasi yang semakin besar, pengendalian kendaraan ODOL menjadi salah satu aspek penting untuk menjaga umur layanan jalan tol. Infrastruktur yang telah dibangun dengan investasi besar diharapkan tidak cepat mengalami kerusakan akibat beban kendaraan yang melampaui batas.