Mobil listrik kerap diposisikan sebagai solusi mobilitas rendah emisi. Namun, di balik keunggulan tersebut masih ada sejumlah tantangan yang perlu dibenahi agar proses transisi energi benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan. Dosen Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tony K. Hariadi, mengatakan hal itu berkaitan dengan sumber listrik yang masih didominasi pembangkit berbahan bakar batu bara membuat jejak karbon tetap muncul dari sisi produksi energi. "Kalau dilihat langsung dari kendaraannya, emisi polusi memang hampir tidak ada. Tetapi kita juga harus melihat dari sisi hulunya. Listrik di Indonesia masih dihasilkan dari pembangkit batu bara yang tetap memicu emisi," kata Tony dalam keterangannya dikutip Selasa (7/7/2026). Ilustrasi mobil listrik. Memangkas 50 Persen Emisi Karbon Ia menjelaskan, secara keseluruhan kendaraan listrik dapat memangkas emisi karbon sekitar 50 persen dibandingkan kendaraan konvensional. Namun, seiring bertambahnya populasi, kebutuhan listrik nasional juga akan meningkat. Apabila bauran energi nasional masih bergantung pada batu bara, emisi dari sektor pembangkitan listrik berpotensi ikut bertambah. "Jika pengguna kendaraan listrik semakin banyak, kebutuhan daya nasional tentu akan naik. Kalau sumbernya masih didominasi batu bara, emisi di sisi pembangkit juga akan ikut bertambah," ujarnya. Selain sumber energi, Tony juga mengingatkan potensi limbah baterai kendaraan listrik yang diperkirakan mulai menjadi persoalan dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Menurut dia, sistem pengelolaan dan daur ulang baterai perlu dipersiapkan sejak dini mengingat usia pakai baterai yang terbatas serta kandungan material di dalamnya memerlukan penanganan khusus. "Kita harus mulai memikirkan sistem daur ulang baterai dari sekarang. Jangan sampai puluhan tahun lagi justru muncul masalah lingkungan baru akibat penumpukan limbah baterai," katanya. Ilustrasi baterai mobil listrik Transportasi Publik Dinilai Lebih Efektif Tony juga menanggapi rencana pembangunan 2.000 titik Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Muhammadiyah (SKPL-MU). Menurut dia, penambahan infrastruktur pengisian daya merupakan langkah positif untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik. Meski begitu, penyediaan stasiun pengisian saja dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan transportasi di Indonesia. Sebagai solusi, ia mengusulkan konsep TransportMU, yakni layanan angkutan umum berbasis listrik yang menghubungkan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), mulai dari kampus, rumah sakit, hingga sekolah. "Penyebab utama tingginya konsumsi energi adalah ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi. Kalau Muhammadiyah memiliki sistem transportasi umum listrik yang nyaman dan tepat waktu, warga akan terdorong untuk beralih," ucap Tony. Menurut dia, penggunaan transportasi publik berbasis kendaraan listrik akan memberikan manfaat lebih besar karena mampu mengangkut banyak penumpang dalam satu perjalanan sehingga konsumsi energi menjadi lebih efisien sekaligus menekan emisi karbon. Ilustrasi emisi karbon. Tony menegaskan, keberhasilan ekosistem kendaraan listrik tidak hanya diukur dari banyaknya mobil listrik yang beredar di jalan, tetapi juga dari kemampuan menciptakan sistem transportasi yang efisien, mudah diakses, dan berkelanjutan. "Hal paling penting sebenarnya bukan sekadar mengganti mobil bensin menjadi mobil listrik. Tantangan utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi melalui penyediaan transportasi publik yang aman," kata Tony. "Jika seluruh aspek itu bisa berjalan bersama, barulah kita bisa mengatakan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia benar-benar berkelanjutan," tutupnya.